Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Penyakit Darah Tinggi Rawan Sebabkan Dua Kali Stroke Tuh

Setiap Dua Menit Orang Meninggal Akibat Hipertensi

Minggu, 10 Februari 2013, 08:07 WIB
Penyakit Darah Tinggi Rawan Sebabkan Dua Kali Stroke Tuh
ilustrasi/ist
rmol news logo .Kesadaran masyarakat akan bahaya hipertensi masih terbilang minim. Kebanyakan penderita, baru sadar ketika mengidap penyakit jantung. Hipertensi menjadi faktor risiko utama penyebab penyakit jantung dan pembuluh darah, bersama dengan diabetes melitus, hiper­cho­lesterol dan kardiovaskular.

Penyakit ini datangnya secara tiba-tiba. Tak  heran kalau pe­nyakit ini sering dinamakan silent killer. “Orang dengan hipertensi, berisiko dua kali lebih besar terkena penyakit kardiovaskular, seperti stroke dan serangan jan­tung. Hipertensi rawan ke­ma­tian,” ungkap ahli jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sa­kit Jantung Harapan Kita, dr San­toso Karokaro di Jakarta.

Dokter yang juga bertugas di Rumah Sakit Mitra Kemayoran  ini menyayangkan, banyak mitos yang salah tentang darah tinggi atau hipertensi dalam masyarakat. Hal tersebut mem­buat sebagian besar masyarakat telat berobat.

“Umumnya, orang meng­ang­gap ada banyak keluhan dan tan­da peringatan hipertensi. Padahal, tidak demikian. Pembuluh yang menebal lama-lama bisa melar yang ber­ujung pada kematian,” imbuhnya.

Ia menambahkan, hipertensi juga sering dianggap sebagai kondisi normal pada orang yang sudah tua. Padahal, tidak demi­kian faktanya.

“Hipertensi itu tidak normal. Meskipun banyak orang tekanan darahnya di atas normal, hal itu tidak normal,” paparnya.

Menurut dia, tekanan darah seseorang dikatakan normal jika kurang dari 140/90 mmHg. Jika tekanan sudah mendekati 130-139/85-89 mmHg, sudah harus dipantau supaya tidak meningkat menjadi darah tinggi.

Selama ini, tekanan darah ting­gi, kata dia, dianggap kurang ber­bahaya oleh masyarakat, karena tidak menyebabkan ke­ma­tian. Na­mun, fakta menunjukkan, hi­per­tensi sangat berbahaya dan meng­akibatkan banyak orang me­ninggal dunia. “Di Amerika mi­sal­nya, tiap dua menit satu orang me­ninggal dunia karena  hiper­ten­si atau komplikasinya,” katanya.

Dokter dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Ke­dok­teran-Universitas Indonesia (FK-UI), Budiman Widjodjo me­nam­bahkan, selain menjadi penyebab serangan jantung, hipertensi juga erat kaitannya dengan diabetes.

“Diabetes itu jodohnya hiper­tensi, karena sekitar 65 persen orang dengan diabetes juga me­ng­a­lami hipertensi,” ujar Bu­di­man Widjodjo di Jakarta.

Dia  mengatakan, pasien deng­an kadar gula darah tinggi bisa mengganggu sistem hormon yang ada di tubuh. Pada orang yang normal, sistem hormon di dalam tubuh akan menghasilkan hormon yang disebut dengan angiotensin 2.

“Ketika kadar gula darah tinggi secara tidak langsung akan me­ningkatkan kadar hormon angio­tensi 2 yang mengakibatkan ter­ja­dinya hipertensi,” ujarnya.

Jika komplikasi yang terjadi ti­dak segera ditangani dengan baik, maka bisa menyebabkan keca­catan yang nantinya tidak dapat kem­bali lagi seperti semula.

Penanganan Telat Nyawa Bisa Lewat

Gangguan hipertensi bisa menyerang tanpa peringatan, dan penyakit ini bisa menyebabkan kematian jika tidak segera dipe­riksakan ke dokter. “Seseorang dengan tekanan darah tinggi tidak harus menunggu bertahun-tahun sebelum terjadi komplikasi. Karena dari hasil studi lembaga kesehatan dunia (World Health Organization/WHO), sebanyak satu miliar penduduk dunia men­derita hipertensi dan 7,1 juta ke­matian tiap tahun terkait penyakit ini,” kata dr Suharjono, di Jakarta.

Menurutnya, penyakit ini ber­sifat global dan tidak memilih-milih penderita. Namun sa­yang­nya, sebagian besar penderita hipertensi enggan mengontrol tekanan darahnya. Bahkan hanya mengkonsumsi obat anti hiper­tensi bila dirasa perlu.

“Bila sudah mengidap tekanan darah tinggi, pasien harus meng­konsumsi obat antihipertensi terus-menerus, jangan hanya saat ada gejala,” tambah guru besar dari departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI ini.

Tekanan darah yang tidak terkontrol, kata Suharjono, dapat mengakibatkan peningkatan ri­siko serangan penyakit kar­dio­vas­kular tiga hingga empat kali lipat. Jika berkepanjangan, hi­per­tensi bisa merusak pem­buluh darah di sebagian besar tubuh. Di an­taranya, menyerang be­berapa or­gan seperti ginjal, otak, dan mata.

“Sebaliknya, bila tekanan da­rah terkontrol baik bisa mengu­rangi pengeluaran protein dalam urin dan memperlambat penu­runan fungsi ginjal,” kata dokter yang juga konsultan nefrologi hi­pertensi dari RS Cipto Mangu­ku­sumo itu.

Hipertensi yang tidak terkon­trol juga dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah halus dalam ginjal, sehingga mengu­rangi kemampuan ginjal  me­nya­ring darah dengan baik. Aki­bat­nya, dalam jangka panjang bisa mengakibatkan kerusakan ginjal yang lebih parah dan berakhir menjadi gagal ginjal.

Untuk itu, tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap pengobatan hipertensi harus ditingkatkan guna mencegah dampak buruk dari penyakit ini.

Ditambahkan ahli jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, dr Santoso Karokaro, darah tinggi merupakan penyakit keturunan. Karena itu, perlu mengetahui secara dini tentang penyakit ter­sebut agar tidak berakibat fatal.

“Jika orangtuanya punya riwa­yat darah tinggi sedini mungkin diukur tekanan darahnya sejak dini, dengan ukuran anak-anak. Saat remaja dan ketika mau ma­suk ke lapangan kerja kembali diukur,” jelasnya.

Darah tinggi, lanjutnya, harus diobati sejak dini dengan cara apa pun. Tujuannya, supaya jangan terjadi kerusakan organ. Pe­ngobatannya, kata dia, cukup de­ngan menjaga gaya hidup. Mi­salnya, orang yang kurang olah­raga disarankan aktif olahraga ringan, seperti jalan kaki atau ae­robik, teratur 4-5 kali seminggu selama 30 menit.

Sementara kepada orang ge­muk, sebaiknya mengurangi be­rat badan. Misalnya, orang yang beratnya 90 kilogram, turun 10 kilogram itu bisa menurunkan te­kanan darah hingga 8 mm. [Harian Rakyat Merdeka]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA