Semasa hidupnya yang luar biasa, Kusama mendedikasikan seluruh waktunya untuk menciptakan karya seni lintas medium, mulai dari seni visual, pertunjukan panggung, fiksi, hingga karya puisi.
Lahir di kota kecil Matsumoto pada 1929, Kusama tumbuh dengan mengalami halusinasi visual berupa kilatan cahaya dan bara api sejak masa kanak-kanak.
Ia kemudian menggunakan dunia seni sebagai media utama agar orang lain dapat memahami cara pandangnya terhadap realitas.
Meski sempat menghadapi penolakan keras dari keluarganya yang konservatif serta minimnya penerimaan dari kancah seni New York yang didominasi oleh kaum pria pada 1960-an, ia tidak pernah menyerah.
Kusama terus mendobrak batas melalui karya patung falik, instalasi sofa kain, hingga pameran yang sering kali memicu sensasi publik.
Titik balik besar dalam kariernya terjadi ketika ia dipilih menjadi seniman tunggal wanita pertama yang mewakili Jepang di ajang bergengsi Venice Biennale pada 1993.
Sejak saat itu, popularitasnya meroket tajam di usia senja dan mengubah drastis cara pandang dunia terhadapnya.
Karya-karya fenomenalnya seperti Infinity Mirror Rooms dan instalasi labu polkadot yang melambangkan kenyamanan serta kedamaian pikiran berhasil memikat jutaan pengunjung di berbagai museum utama dunia.
Sentuhan artistiknya yang khas bahkan berhasil merambah industri mode mewah melalui kolaborasi prestisius bersama merek global seperti Louis Vuitton.
Kusama, yang memilih tinggal secara sukarela di sebuah rumah sakit jiwa selama beberapa dekade dengan mengenakan wig merah cerah dan busana polkadot khasnya, tetap melukis hingga hari-hari terakhirnya.
Meskipun ia telah tiada, warisan cinta abadi dan kekuatan inspiratif dari karya-karyanya akan terus hidup abadi di hati para pencinta seni seluruh dunia.
BERITA TERKAIT: