MUI Serukan Perdamaian Dunia di Forum Internasional Meeting For Peace in Assisi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widodo-bogiarto-1'>WIDODO BOGIARTO</a>
LAPORAN: WIDODO BOGIARTO
  • Kamis, 29 Oktober 2026, 09:31 WIB
MUI Serukan Perdamaian Dunia di Forum Internasional Meeting For Peace in Assisi
Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud. (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
rmol news logo Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud menyampaikan pidato penting dalam rangkaian Pertemuan Internasional untuk Perdamaian ke-40 International Meeting for Peace yang diselenggarakan oleh Komunitas Sant'Egidio di Assisi, Italia.

Forum akbar yang mengusung tema Unarmed and Disarming Peace (Pemerintahan Damai Tanpa Senjata dan Melucuti Senjata) ini berlangsung pada 25-27 Oktober 2026.

Dalam pemaparannya yang berjudul Agama-Agama di Asia: Pencarian Perdamaian di Dunia yang Dilanda Perang (Sebuah Perspektif Islam), Kiai Marsudi menyoroti realitas global yang tengah terkoyak oleh berbagai konflik bersenjata, mulai dari Gaza, Myanmar, Ukraina, hingga kawasan Timur Tengah seperti Iran, Palestina, dan Yaman.

"Hari ini, kita hidup di dunia yang tengah berperang. Pertanyaannya di manakah agama? Apakah agama bagian dari perang, atau bagian dari perdamaian?" kata Kiai Marsudi, dikutip Kamis 29 Oktober 2026.

Sebagai representasi dari benua Asia yang dikenal sebagai tempat kelahiran berbagai agama besar dunia seperti Hindu di India, Buddha di Nepal, Konfusianisme di Tiongkok, hingga agama-agama samawi di Asia Barat Kiai Marsudi menegaskan bahwa jika agama-agama lahir di Asia, maka semangat perdamaian juga harus lahir dan dipancarkan dari Asia.

Model Madinah dan Piagam Kebebasan Beragama

Kiai Marsudi mengelaborasi pandangannya melalui empat pendekatan utama: dalil Al-Qur'an dan Hadis, teladan sejarah Nabi Muhammad SAW, pandangan para ulama, serta prinsip-prinsip yurisprudensi (fiqh).

Kiai Marsudi menyoroti Model Madinah sebagai preseden historis kepemimpinan majemuk pertama di dunia. Konstitusi Madinah (Sahifah Al-Madinah) yang dicetuskan pada tahun 622 M terbukti mampu merangkul keragaman umat Islam, Yahudi, Kristen, Majusi, dan pagan Arab dalam ikatan damai dan kebebasan beragama, 400 tahun lebih awal sebelum lahirnya Magna Carta di Eropa.

"Jika Madinah bisa hidup damai dengan berbagai agama 1.400 tahun yang lalu, mengapa Gaza, Ukraina, Iran, Yaman, Palestina, dan tempat-tempat lainnya tidak bisa hidup damai hari ini?," kata Kiai Marsudi.

Terakhir, Kiai Marsudi menyerukan agar dunia tidak mengimpor perang ke Asia, melainkan mengekspor nilai-nilai perdamaian dari Asia. 

Dengan memadukan prinsip Salam dalam Islam, Vasudhaiva Kutumbakam dala Hindu, Ahimsa dalam Buddha, prinsip keharmonisan Konfusianisme, hingga kasih sayang dalam ajaran Kristen, para pemimpin agama didorong untuk terus mendesak dialog, diplomasi, dan negosiasi demi mengakhiri perang.

Pertemuan internasional di Assisi ini ditutup dengan seruan kolektif para tokoh lintas agama untuk terus membangun jembatan dialog dan menolak segala bentuk kekerasan demi masa depan kemanusiaan yang beradab.

Berdasarkan dokumen resmi program acara International Meeting for Peace Assisi 2026, sesi Forum 21 yang membahas peran agama-agama di Asia ini dipimpin oleh sejarawan asal Italia dari Komunitas Sant'Egidio, Agostino Giovagnoli.

Selain Kiai Marsudi, forum strategis ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pemimpin keagamaan internasional terkemuka, di antaranya Komunitas Sant'Egidio Belgia, Hilde Kieboom; Presiden Dewan Regional Umbria Italia, Stefania Proietti; Orientalis dan Ilmuwam Politik Prancis, Olivier Roy. 

Hadir pula Attivista Inisiatif Strategis untuk perempuan Tanduk Afrika, Hala Al-Karib; Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar; Presiden Konferensi Episkopal Italia, Matteo Zuppi; Rabi Agung Perancis, Haim Korsia; serta Imam Besar Budddhisme Jepang, Gijun Sugitani.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA