Trump Murka Asap Kebakaran Kanada Selimuti AS, Ancam Tambah Tarif Impor

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/hani-fatunnisa-1'>HANI FATUNNISA</a>
LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Minggu, 19 Juli 2026, 16:08 WIB
Trump Murka Asap Kebakaran Kanada Selimuti AS, Ancam Tambah Tarif Impor
Presiden AS Donald Trump (Foto: White House)
Kecil Besar
rmol news logo Asap pekat dari ratusan kebakaran hutan di Kanada memicu kemarahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump menilai pemerintah Kanada gagal mengelola kawasan hutannya sehingga asap pekat menyelimuti wilayah Midwest hingga Timur Laut AS. 

Dia bahkan menyebut akan menghubungi Perdana Menteri Mark Carney untuk meminta penjelasan mengenai situasi yang disebutnya sangat tidak bisa diterima. 

"Kami meminta pertanggungjawaban Kanada atas fakta bahwa mereka tidak merawat hutan mereka dengan baik... dan Amerika Serikat secara tidak perlu diserbu oleh udara kotor, tercemar, dan tidak sehat," tulis Trump di Truth Social, dikutip Minggu, 19 Juli 2027.

Trump kemudian menegaskan bahwa biaya besar yang harus dikeluarkan AS akibat polusi asap tersebut akan diperhitungkan dalam kebijakan tarif terhadap Kanada. 

"Ini adalah kelalaian yang disengaja, dan menjadi kejadian tahunan, yang merugikan Amerika Serikat miliaran dolar, dan biaya polusi ini tentu saja harus ditambahkan ke tarif yang saat ini dibayarkan Kanada," lanjutnya.

Pemerintah Kanada langsung membantah tudingan tersebut. Menteri Penanggulangan Darurat dan Ketahanan Masyarakat Kanada Eleanor Olszewski menyatakan negaranya telah menggelontorkan dana sebesar 12 miliar dolar Kanada sejak 2020 untuk menjaga keberlanjutan hutan dan mencegah kebakaran. 

Olszewski menegaskan fokus utama pemerintah saat ini adalah melindungi warga yang terdampak. 

"Saat ini, prioritas utama kami adalah melindungi warga Kanada dan menjaga keamanan masyarakat," ujarnya.

Di sisi lain, para ilmuwan iklim menilai meningkatnya kebakaran hutan di Kanada merupakan dampak dari perubahan iklim yang menyebabkan cuaca semakin panas dan kering. 

"Seiring dengan pemanasan iklim, kita akan menyaksikan cuaca yang lebih ekstrem, dan kita akan melihat lebih banyak kebakaran," ujar Profesor kebakaran hutan dari Thompson Rivers University, Mike Flannigan.

Kebakaran terbesar tahun ini terjadi di Provinsi Ontario, yang telah menghanguskan sekitar 650 ribu acre lahan dan memaksa ribuan orang mengungsi. 

Perselisihan Trump dan Carney diperkirakan kembali menjadi perhatian ketika keduanya berpeluang bertemu pada final Piala Dunia FIFA di New Jersey akhir pekan ini. 

Ironisnya, Amerika Serikat sendiri juga tengah menghadapi musim kebakaran yang lebih buruk dari rata-rata, dengan sekitar 3,7 juta acre lahan telah terbakar sepanjang 2026, jauh di atas rata-rata 10 tahun terakhir.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA