Menurut laporan
Financial Times, operator pelabuhan DP World tengah menjajaki pengembangan terminal baru di pelabuhan Fujairah sekaligus membangun pelabuhan multiguna baru.
Fasilitas tersebut dirancang agar kapal-kapal yang menuju UEA tidak lagi harus bergantung sepenuhnya pada Pelabuhan Jebel Ali maupun melintasi Selat Hormuz, yang selama berbulan-bulan menjadi titik panas konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Rencana tersebut menandai perubahan besar dalam strategi logistik UEA. Selama ini, Jebel Ali menjadi tulang punggung perdagangan negara Teluk itu.
Namun awal tahun ini, pelabuhan itu sempat dilanda kebakaran setelah dihantam serpihan rudal Iran yang ditembakkan sebagai bagian dari eskalasi konflik regional.
Meski demikian, DP World menegaskan pembangunan pelabuhan baru bukan berarti menggeser posisi Jebel Ali sebagai pusat perdagangan utama.
"Jebel Ali akan tetap menjadi Jebel Ali. Ukurannya tidak akan pernah dikurangi. Kami memang memiliki rencana sendiri, dan kami sangat aktif dalam hal mengamati pantai timur sejauh menyangkut DP World. Ini sebagai langkah defensif jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," jelas pihak perusahaan, dikutip Selasa, 14 Juli 2026.
DP World diperkirakan akan menggelontorkan investasi awal senilai ratusan juta dolar AS untuk merealisasikan proyek tersebut.
Nilai investasi itu masih berpotensi bertambah seiring pengembangan kawasan pelabuhan baru yang diproyeksikan menjadi jalur alternatif perdagangan apabila situasi keamanan di Selat Hormuz kembali memburuk.
Ancaman terhadap jalur pelayaran itu memang belum mereda. Pada Senin, 13 Juli 2026, dua kapal tanker minyak milik UEA dilaporkan dihantam rudal jelajah Iran di Selat Hormuz, menewaskan seorang awak kapal berkewarganegaraan India dan melukai delapan lainnya.
Sementara itu, UK Maritime Trade Operations juga melaporkan sebuah kapal tanker lain terkena rudal Iran di lepas pantai Oman saat melintasi jalur pelayaran selatan.
Menurut data kantor berita resmi UEA hingga April 2026, Iran telah meluncurkan sedikitnya 438 rudal balistik, 2.012 drone, dan 19 rudal jelajah ke berbagai target di negara tersebut sejak konflik meletus.
Situasi itu mendorong Abu Dhabi mempercepat pembangunan infrastruktur pelabuhan baru sebagai langkah antisipatif untuk menjaga kelancaran perdagangan sekaligus mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh eskalasi militer di Selat Hormuz.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: