Pria tersebut diidentifikasi sebagai Austin Tucker Martin (21), warga Cameron, North Carolina. Menurut pihak berwenang, ia memasuki gerbang barat lapangan golf Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida, ketika ada tamu yang keluar dari area tersebut. Ia membawa sesuatu yang tampak seperti senapan serta satu kaleng bahan bakar.
Sheriff Palm Beach County, Ric Bradshaw, mengatakan agen Secret Service telah memerintahkan Martin untuk menjatuhkan senjata dan barang yang dibawanya. Namun, peringatan itu tidak diindahkan.
“Dia diperintahkan untuk menjatuhkan dua benda yang dibawanya,” kata Bradshaw kepada wartawan, dikutip dari National Review, Senin 23 Februari 2026.
“Dia meletakkan kaleng bensin itu, lalu mengangkat senapan ke posisi menembak," lanjutnya.
Dalam situasi tersebut, agen kemudian melepaskan tembakan dan menewaskan Martin di tempat.
Saat kejadian, Trump dan Ibu Negara Melania Trump sedang berada di Washington, D.C. untuk menghadiri jamuan makan malam para gubernur dan tetap berada di Gedung Putih. Gedung Putih melalui Juru Bicara Karoline Leavitt memuji tindakan aparat yang dinilai bertindak “cepat dan tegas untuk melumpuhkan orang gila.”
Direktur FBI, Kash Patel, menyatakan pihaknya mengerahkan seluruh sumber daya yang diperlukan untuk menyelidiki insiden tersebut. Dalam pernyataan resmi, Secret Service menegaskan bahwa latar belakang pelaku, motif, serta penggunaan kekuatan mematikan kini tengah diselidiki bersama FBI dan Kantor Sheriff Palm Beach County.
Keluarga Martin sebelumnya melaporkan dirinya hilang pada Sabtu. Ibunya juga sempat mengunggah pesan di Facebook untuk mencari keberadaan putranya. Di media sosial, Martin diketahui kerap mengunggah lukisan cat air lapangan golf populer. Aparat juga menemukan kotak senapan di dalam kendaraannya dan masih menyelidiki kapan serta di mana senjata itu dibeli.
Insiden ini menambah daftar ancaman terhadap Trump dalam beberapa tahun terakhir. Pada September 2024, Ryan Routh ditangkap setelah bersembunyi di semak-semak lapangan golf Mar-a-Lago sambil membawa senapan dan berniat menembak Trump yang saat itu masih berstatus kandidat presiden. Routh kemudian divonis penjara seumur hidup.
Sebelumnya, dalam kampanye di Butler, Pennsylvania, Juli 2024, Thomas Crooks menembak Trump hingga mengenai telinganya dan menewaskan satu peserta kampanye, sebelum akhirnya ditembak mati oleh Secret Service di lokasi.
Jaksa Agung Pam Bondi mengatakan dirinya telah berbicara dengan presiden dan bekerja sama dengan aparat penegak hukum federal terkait insiden terbaru ini. Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan motif dan detail lengkap peristiwa tersebut.
BERITA TERKAIT: