Ini merupakan penampilan perdananya di forum strategis tersebut sebagai kepala negara dari anggota penuh baru BRICS.
Momen istimewa itu semakin menonjol saat Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, selaku Ketua BRICS 2025 dan tuan rumah pertemuan, memberikan sambutan khusus dalam pidato pembukaannya.
Lula menyampaikan ucapan selamat datang kepada Prabowo dan secara eksplisit menyoroti kehadiran Indonesia sebagai anggota resmi BRICS yang baru bergabung.
“Saya ingin secara khusus menyambut Presiden Prabowo Subianto, yang berpartisipasi untuk pertama kalinya dalam Cúpula dos BRICS sebagai Presiden Indonesia,” ujar Lula di hadapan para pemimpin negara anggota BRICS.
Pernyataan Lula ini tidak hanya mencerminkan penghormatan terhadap kehadiran Indonesia, tetapi juga mempertegas posisi strategis Indonesia dalam dinamika geopolitik global yang tengah berubah.
Dalam pidatonya, Lula juga mengangkat kembali semangat Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung sebagai landasan moral dan historis yang mengilhami pembentukan BRICS.
Ia menegaskan bahwa BRICS hadir sebagai kelanjutan dari nilai-nilai gerakan non-blok yang menolak dominasi kekuatan besar dunia.
"BRICS adalah manifestasi dari gerakan non-blok Bandung. BRICS menghidupi semangat Bandung," tegas Lula di hadapan para pemimpin negara anggota BRICS.
Lula menambahkan, pendirian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pasca-Perang Dunia II menandai kemenangan atas fasisme dan menjadi simbol harapan bersama bagi dunia. Ia menggarisbawahi bahwa sebagian besar negara BRICS saat ini merupakan bagian dari pendiri PBB.
"Sepuluh tahun setelah PBB berdiri, Konferensi Bandung menolak pembagian dunia dalam zona pengaruh dan memperjuangkan tatanan internasional yang multipolar," jelas Lula.
Kehadiran Prabowo menandai keikutsertaan perdana Indonesia dalam KTT BRICS sebagai anggota penuh, setelah resmi bergabung sejak 1 Januari 2025. Partisipasi Indonesia membuka babak baru dalam kontribusi negara ini terhadap isu-isu global.
Forum BRICS kali ini membahas berbagai topik strategis, mulai dari konflik geopolitik yang berkepanjangan di berbagai kawasan, reformasi sistem tata kelola global, hingga penguatan prinsip-prinsip multilateralisme.
Di bidang ekonomi dan teknologi, topik-topik seperti kerja sama keuangan, tata kelola artificial intelligence, transisi energi dan perubahan iklim, serta isu kesehatan global juga menjadi agenda utama diskusi.
Selain Presiden Prabowo, sejumlah pemimpin negara anggota baru juga hadir dalam forum tersebut. Di antaranya adalah Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly, Putra Mahkota Abu Dhabi Khalid bin Mohammed bin Zayed, serta Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi.
Mereka bergabung dengan para pemimpin dari negara-negara pendiri BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) untuk membahas masa depan tatanan dunia yang lebih adil, inklusif, dan multipolar.
BERITA TERKAIT: