Dalam unggahan di akun Truth Social pada Senin, 11 November 2024, Trump mengaku telah lama mengenal Tom dan yakin dia mampu mengawasi perbatasan Amerika dan menjadi "The Border Czar" atau penguasa perbatasan.
"Saya senang mengumumkan bahwa Mantan Direktur ICE, dan pendukung setia Pengawasan Perbatasan, Tom Homan, akan bergabung dengan Pemerintahan Trump, yang bertanggung jawab atas Perbatasan Negara kita ("The Border Czar")," tulis Trump, seperti dimuat
AFP.Homan yang berusia 78 tahun terkenal sebagai pejabat imigrasi garis keras yang berjanji akan melakukan deportasi besar-besaran kepada imigran gelap pada hari pertama menjabat.
"Saya berpesan kepada jutaan imigran gelap yang dibebaskan Joe Biden di negara kita: Sebaiknya kalian mulai berkemas sekarang," ujarnya saat Konvensi Nasional Partai Republik pada bulan Juli.
Trump baru akan dilantik sebagai presiden AS pada Januari tahun 2025. Sejauh ini dia baru menunjuk manajer kampanyenya Susie Wiles sebagai kepala staf Gedung Putih.
Pada Minggu malam, 10 November 2024, Trump mengatakan telah menawarkan jabatan duta besar AS untuk PBB kepada Anggota Kongres dari Partai Republik Elise Stefanik.
Stefanik, yang sedang menjabat untuk kelima kalinya mengaku telah menerima jabatan tersebut dan merasa sangat terhormat.
AS berjuang selama bertahun-tahun untuk mengelola perbatasan selatannya dengan Meksiko. Trump justru meningkatkan kekhawatiran dengan mengklaim bahwa invasi sedang berlangsung oleh para migran yang menurutnya akan memperkosa dan membunuh warga Amerika.
Selama kampanyenya, ia berulang kali mencela imigran tidak berdokumen, menggunakan retorika kekerasan tentang mereka yang "meracuni darah" Amerika Serikat.
Dalam pidato-pidato rapat umum, ia membesar-besarkan ketegangan lokal dan menyesatkan audiensnya tentang statistik dan kebijakan imigrasi.
Trump berjanji untuk menangani geng-geng migran menggunakan Undang-Undang Musuh Asing tahun 1798, yang memungkinkan pemerintah federal untuk menangkap dan mendeportasi orang asing yang berasal dari negara musuh, sebagai bagian dari gerakan deportasi massal yang ia namakan "Operasi Aurora."
BERITA TERKAIT: