Aksi ini diinisiasi oleh pemimpin Partai Demokrat Korea, Lee Jae-myung pada Kamis (31/8), seperti dimuat
The Straits Times.
Lee mengatakan, mogok makan dilakukan dengan berbagai alasan, mulai dari kesalahan pengelolaan ekonomi hingga politik yang memecah belah dan ancaman terhadap kebebasan pers.
Termasuk juga kurangnya akuntabilitas atas bencana penghancuran massa di Itaewon pada bulan Oktober lalu, dan kegagalan untuk menentang pelepasan air di Fukushima.
Terkait dengan isu Fukushima, Lee menyebut pemerintahan Presiden Yoon Suk-yeol telah menjadi kaki tangan Jepang karena dinilai pasif dengan pembuangan air limbah nuklir Fukushima.
Sampai saat ini Korea Selatan mengatakan tidak mendukung tindakan Jepang, tapi juga tidak menolak seperti China.
Meskipun tidak jarang para politisi Korea Selatan melakukan mogok makan untuk menarik perhatian, jarang sekali pemimpin sebuah partai besar melakukan tindakan yang tegas.
BERITA TERKAIT: