"Tidak. Dan tidak ada rencana seperti itu untuk ke depannya. Kami tidak akan memanggil wanita," kata Shoigu, seperti dikutip dari
TASS.
Rusia secara resmi mengatakan bahwa negara itu memanggil warganya untuk bergabung dalam mobilisais parsial sebagai tentara cadangan. Mereka yang dipanggil adalah laki-laki dengan usia yang layak. Namun, Presiden Vladimir Putin dalam pidatonya pada Rabu pekan lalu saat mengumumkan mobilisasi parsial, tidak menyebutkan kriteria.
Untuk upaya mobilisasi, dibutuhkan sekitar 300.000 tentara. Orang dengan pengalaman militer lebih diprioritaskan.
Dalam perjalanannya, banyak warga yang tanpa pengalaman militer atau melewati usia wajib militer, menerima surat panggilan. Hal ini memicu kemarahan warga sehingga muncul aksi protes dan kerusuhan besar.
Lebih dari 1.300 pengunjuk rasa ditangkap di 38 kota dalam minggu ini, dan lebih dari 740 ditahan di 30 kota dari St Petersburg hingga Siberia, menurut kelompok pemantau independen OVD-Info.
Banyak warga Rusia yang akhirnya meninggalkan negara itu untuk melarikan diri dari wajib militer. Mereka mengantri berjam-jam untuk menyeberang ke Mongolia, Kazakhstan, Finlandia atau Georgia, takut Rusia akan menutup perbatasannya, meskipun Kremlin mengatakan laporan tentang eksodus dibesar-besarkan.
Saat ditanya oleh wartawan di PBB mengapa begitu banyak orang Rusia kabur, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov hanya menjawab, itu adalah hak kebebasan bergerak.
BERITA TERKAIT: