"Ekonomi terbesar kedua (China) saat ini tidak terlihat kehadiranya dalam upaya penanganan krisis pangan golobal khususnya di Afrika Timur," ujar Power dalam pidato tentang krisis ketahanan pangan global di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington pada Selasa (19/7).
Menurut Power, jika China mengekspor lebih banyak makanan dan pupuk ke pasar global atau ke Program Pangan Dunia itu secara signifikan akan mengurangi tekanan pada harga makanan dan pupuk serta membuktikan perannya sebagai pendukung ekonomi negara berkembang.
"Bahkan sebelum perang di Ukraina dimulai, China telah membatasi perdagangan pupuk dan penimbunan biji-bijian yang turut menggelembungkan harga. Ditambah lagi China tidak tranparan mengungkap jumlah stok dan produksinya†jelas Power seperti dikutip dari
ANI News pada Rabu (20/7).
Perang di Ukraina telah mendorong jutaan warganya hidup dalam kemelaratan dan ketergantungan pada bantuan kemanusiaan. Perang juga berdampak pada wilayah lain khususnya negara miskin di dunia yang turut terpapar parahnya krisis pangan saat ini.
Power merinci tiga bidang di mana krisis pangan global harus diperangi untuk mencegah bencana dan mengumumkan bahwa USAID akan memberikan gelombang bantuan kemanusiaan dan pembangunan senilai hampir USD 1,3 miliar ke Tanduk Afrika.
“Kita harus memberikan bantuan kemanusiaan segara, menyediakan investasi berkelanjutan, dan melakukan diplomasi bersama untuk menghindari pembatasan ekspor yang dapat memperburuk krisis, dan mengurangi beban negara-negara miskin,†pungkasnya.
BERITA TERKAIT: