Pada 4 Juni 1989, aksi demonstrasi besar-besaran yang dipimpin oleh mahasiswa di China berakhir penuh darah ketika pasukan China melepaskan tembakannya di Lapangan Tiananmen.
Hingga saat ini pemerintah China enggan memberikan jumlah pasti korban tewas dari tragedi tersebut. Tetapi kelompok HAM meyakini jumlahnya bisa mencapai ribuan.
Peringatan Tiananmen biasanya dilakukan setiap tahun oleh Hong Kong dan Taiwan. Namun situasi Hong Kong saat ini yang semakin erat di bawah kendali China telah mengerahkan pengamanan ketat untuk mencegah aksi protes.
Di China sendiri, otoritas melarang setiap peringatan tragedi Tiananmen. Sehingga hanya Taiwan yang bisa memperingati tragedi berdarah tersebut secara terbuka.
"Ini adalah simbol betapa demokrasi itu berharga dan rapuh pada saat yang sama, dan bagaimana orang yang peduli dengan demokrasi perlu membelanya atau otoriter di mana pun akan berpikir orang tidak peduli," kata Jeremy Chiang yang hadir acara peringatan Tiananmen 1989 di Lapangan Liberty, Taipei.
Sementara itu, dikutip
Reuters, sejumlah aktivis telah membuat patung baru untuk memperingati tragedi Tiananmen. Desember lalu, patung tersebut dihapus dari Universitas Hong Kong setelah bertengger di sana selama lebih dari dua dekade.
Terakhir kali Hong Kong menggelar peringatan Tiananmen adalah pada 2019. Ketika itu lebih dari 180 ribu orang hadir, memenuhi enam lapangan sepak bola.
Tetapi China memberlakukan UU keamanan nasional di Hong Kong pada Juni 2020 yang menghukum tindakan subversi, terorisme, dan kolusi dengan pasukan asing hingga hukuman penjara seumur hidup.
BERITA TERKAIT: