Menteri Pertanian Mahinda Amaraweera mengatakan Sri Lanka telah kekurangan bahan pokok, termasuk makanan dan bahan bakar.
"Kami meminta semua petani untuk masuk ke ladang mereka dalam 5-10 hari ke depan dan menanam padi," ujarnya, seperti dimuat
BBC, Rabu (1/6).
Menurut Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, Sri Lanka akan menghadapi krisis pangan pada Agustus jika tidak meningkatkan produksi.
Untuk menangani hal itu, Sri Lanka meminta bantuan dari bank makanan Asia Selatan, yang memasok beras dan barang-barang lainnya ke negara-negara yang membutuhkan.
Komisaris makanan J. Krishnamoorthy mengatakan pihaknya sudah meminta Asosiasi Asia Selatan untuk Kerjasama Regional (SAARC) terkait bantuan bank makanan.
Ia menambahkan bahwa Sri Lanka mencari sekitar 100 ribu metrik ton makanan dalam bentuk sumbangan atau penjualan bersubsidi.
Pada Selasa (31/5), pemerintah Sri Lanka mengumumkan kenaikan langsung pajak pertambahan nilai (PPN) dari 8 persen menjadi 12 persen. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan pemerintah sebesar 65 miliar rupee Sri Lanka.
Ia juga mengatakan pajak perusahaan akan naik pada Oktober dari 24 persen menjadi 30 persen.
Bulan lalu, Sri Lanka gagal membayar utangnya untuk pertama kalinya dalam sejarah, ketika masa tenggang untuk pembayaran bunga utang yang belum dibayar senilai 78 juta dolar AS berakhir.
BERITA TERKAIT: