Alih-alih Mundur, Gotabaya Rajapaksa Janji Berikan Sebagian Kekuasaan Presiden ke Parlemen Sri Lanka

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-meiliana-gunawan-1'>SARAH MEILIANA GUNAWAN</a>
LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Kamis, 12 Mei 2022, 14:32 WIB
Alih-alih Mundur, Gotabaya Rajapaksa Janji Berikan Sebagian Kekuasaan Presiden ke Parlemen Sri Lanka
Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa/Net
rmol news logo Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa akan memberikan sebagian besar kekuasaannya ke parlemen untuk menstabilkan negara yang kacau akibat dipicu krisis ekonomi parah.

Hal itu ia sampaikan lewat pidato yang disiarkan di televisi pada Rabu (11/5). Ia berjanji untuk menunjuk perdana menteri baru, memberdayakan parlemen, dan menghapus sistem presidensial eksekutif yang membuatnya sangat berkuasa.

“Saya mengambil langkah-langkah untuk menunjuk seorang perdana menteri baru yang memiliki kepercayaan mayoritas di Parlemen pada minggu ini, yang dapat memenangkan kepercayaan rakyat dan Kabinet baru untuk mengendalikan situasi saat ini, untuk menghentikan negara agar tidak jatuh ke dalam jurang kehancuran dan melanjutkan fungsi pemerintahan yang terhenti,” kata Rajapaksa, seperti dikutip Associated Press.

Janji Rajapaksa itu disampaikan setelah kekacauan hebat terjadi di Sri Lanka, yang memicu pengunduran diri saudara laki-lakinya, Mahinda Rajapaksa, dari jabatan Perdana Menteri.

Pada Rabu, pihak berwenang mengerahkan kendaraan lapis baja dan pasukan di jalan-jalan ibukota Kolombo sebagai tanggapan terjadinya gelombang kekerasan di seluruh negeri.

Pasukan keamanan telah diperintahkan untuk menembak mereka yang dianggap ikut serta dalam kekerasan. Sementara aksi pembakaran dan perusakan sporadis terus berlanjut meskipun jam malam ketat diberlakukan di seluruh negeri yang dimulai Senin malam (9/5).

Dalam beberapa hari terakhir, sembilan orang tewas dan lebih dari 200 orang terluka dalam serangan kekerasan hebat, ketika pengunjuk rasa membakar gedung, rumah-rumah pejabat, dan kendaraan.

Para pengunjuk rasa anti-pemerintah telah menuntut pengunduran diri Presiden Rajapaksa dan saudaranya karena krisis yang hampir membuat Sri Lanka bangkrut.

Rakyat Sri Lanka disebut sulit dengan kekurangan bahan bakar, makanan, dan kebutuhan pokok lainnya. Sedangkan negara tidak memiliki devisi yang cukup untuk membeli kebutuhan. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA