Ketegangan geopolitik tersebut dikhawatirkan berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi, termasuk lonjakan harga energi dunia.
Menurut Mardani, salah satu indikator yang perlu diwaspadai adalah kenaikan harga minyak mentah dunia yang sudah menembus di atas 100 dolar AS per barel. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian nasional dan fiskal negara.
“Tekanan pada ekonomi kian berat. Harga minyak sudah di atas USD 100 per barrel. Lembaga rating juga banyak memberi catatan negatif,” ujar Mardani lewat akun X miliknya, Selasa, 10 Maret 2026.
Ia berharap pemerintah mampu mengelola tekanan ekonomi global tersebut dengan kebijakan fiskal yang tepat, terutama dengan menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama dalam pengelolaan anggaran negara.
Menurutnya, perhatian pemerintah harus difokuskan pada kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap gejolak ekonomi, seperti rakyat kecil, petani, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga para pengemudi ojek online.
“Semoga pemerintah tangguh dan mampu mengatur beban keuangan negara dengan prioritas pada rakyat, khususnya rakyat kecil, petani, UMKM, driver ojol hingga pejuang keluarga kelas menengah,” katanya.
Mardani juga mengingatkan agar alokasi anggaran negara diarahkan pada kebutuhan dasar masyarakat agar dampak gejolak ekonomi global tidak semakin memberatkan kehidupan rakyat.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu pun menyampaikan dukungan moral kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa agar tetap kuat menghadapi tantangan fiskal di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Atur anggaran untuk kepentingan asasi masyarakat. Semangat Pak Purbaya,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: