Begitu yang dikatakan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Antonio Guterres pada Rabu (13/4), seperti dikutip
Anadolu Agency.
“Sebanyak 1,7 miliar orang, sepertiga di antaranya sudah hidup dalam kemiskinan, sekarang sangat rentan terhadap gangguan dalam sistem pangan, energi dan keuangan yang memicu peningkatan kemiskinan dan kelaparan,†kata Guterres.
Guterres mengatakan 36 negara mengandalkan Rusia dan Ukraina untuk lebih dari setengah impor gandum mereka, termasuk beberapa negara termiskin dan paling rentan.
Sebelum perang, harga gandum dan jagung sudah naik, namun memburuk hingga meroket 30 persen sejak dimulainya perang pada 24 Feberuari.
Mengingat Rusia adalah pemasok energi utama, harga minyak, gas alam, dan pupuk juga menjadi tinggi.
"Harga minyak naik lebih dari 60 persen selama setahun terakhir, mempercepat tren yang berlaku. Hal yang sama berlaku untuk harga gas alam, yang telah naik 50 persen dalam beberapa bulan terakhir," ujar Guterres.
"Ketika harga naik, begitu juga kelaparan dan kekurangan gizi, terutama untuk anak-anak," tambahnya.
Melihat situasi tersebut, Guterres mendesak agar perang segera diakhiri dan negosiasi perdamaian perlu dipercepat.
BERITA TERKAIT: