Menakar Kegagalan Invasi Rusia, Putin Bagai "Maju Mundur Kena"

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/sarah-meiliana-gunawan-1'>SARAH MEILIANA GUNAWAN</a>
LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN
  • Rabu, 09 Maret 2022, 23:08 WIB
Menakar Kegagalan Invasi Rusia, Putin Bagai "Maju Mundur Kena"
Pengamat komunikasi dari Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Algooth Putranto/Net
rmol news logo Setelah hampir dua pekan Rusia melancarkan invasi ke Ukraina, belum ada tanda-tanda ketegangan akan mereda. Bahkan di pihak Rusia, tampak tidak ada kemajuan yang signifikan atau sinyal menuju kemenangan.

Pengamat komunikasi dari Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Algooth Putranto memandang, persepsi publik saat ini menunjukkan Rusia tidak berhasil mewujudkan tujuan dari invasinya, meski tidak ada campur tangan militer Amerika Serikat (AS) dan NATO.

Sebaliknya, Algooth mengatakan, simpati warga dunia saat ini justru lebih memihak Ukraina.

Dalam keterangannya yang diterima redaksi pada Rabu (9/3), Algooth setidaknya menyebut dua indikator yang dapat menyimpulkan kegagalan invasi Rusia di Ukraina.

Komunikasi

"Secara komunikasi, aksi Rusia di Ukraina telah gagal. Sejak awal narasi operasi militer khusus yang dikatakan untuk melakukan demilitarisasi dan denazifikasi termasuk mengada-ada karena masyarakat dunia sudah belajar dibohongi Amerika saat menginvasi Irak tahun 2003,” ujarnya.

Menurut Algooth, narasi "demiliterisasi" yang terus digaungkan Rusia tidak sesuai fakta bahwa Ukraina belum masuk sebagai anggota NATO ketika diserang. Sementara narasi "denazifikasi" justru membingungkan karena secara hitam putih, dan mempersepsikan Ukraina adalah antisemit dan fasis.

Jika dibandingkan, metode yang dilakukan Rusia saat ini serupa dengan modal psikologi ketakutan yang dilancarkan AS setelah tragedi 9/11, dan kebohongan Senjata Pembunuh Massal (WMD) yang direstui Presiden George W Bush untuk menginvasi Irak pada 19 Maret 2003.

Momentum

Terlepas dari komunikasi yang dibangun, langkah Rusia untuk melancarkan invasi ke Ukraina saat ini tampaknya tidak tepat dengan momentum, ketika seluruh dunia berusaha bangkit dari pandemi Covid-19.

Ia mengatakan, momentum kemanusiaan yang seharusnya dibangun justru tercoreng oleh aksi militer dengan alasan tidak masuk akal.  

“Ini beda ketika Rusia masuk ke Georgia tahun 2008, kebetulan mata dunia terpaku pada pemilu Amerika Serikat. Sementara ketika menginvasi Krimea tahun 2014, dunia masih tertuju pada geger ISIS di Suriah. Itu sebabnya Georgia dan Crimea tak terlalu mendapat atensi publik,” jelasnya.

Dengan situasi tersebut, Algooth menilai Rusia telah terjebak, bagaikan "maju mundur kena". Jika terus melanjutkan invasi, maka akan menghadapi persepsi negatif warga dunia.

Namun jika mundur, Rusia akan menghadapi rasa malu luar biasa, seakan mengulang sejarah ketika Uni Soviet angkat kaki dari Berlin tahun 1992 dan Afghanistan tahun 1988.

"Bagi Presiden (Vladimir) Putin, keputusan mundur dari palagan Ukraina jelas bukan sebuah pilihan," ucap Algooth.

Menilai situasi saat ini, Algooth mengatakan, perlu ada sosok yang dekat secara emosional dengan Putin untuk melakukan persuasi.

Dalam hal ini, ia menyebut Presiden China Xi Jinping dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai dua orang yang kemungkinan mumpuni. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA