Pengakuan itu disampaikan Trump secara sesumbar kepada rekan-rekannya, dan diungkap dalam buku berjudul "The Confidence Man" yang akan dirilis oleh reporter New York Times, Maggie Haberman.
"Seperti yang kita ketahui, dia memiliki fiksasi pada hubungan ini," ujar Haberman kepada
CNN, Kamis (10/2).
Kendati begitu, Haberman mengatakan klaim Trump tidak dapat diverifikasi dan kemungkinan tidak benar.
"Apa yang dia katakan dan apa yang sebenarnya terjadi tidak selalu sejalan, tetapi dia telah memberi tahu orang-orang bahwa dia menjalin semacam korespondensi atau diskusi dengan Kim Jong Un," kata Haberman.
Trump, lanjut Haberman, juga menyebut Kim Jong Un adalah satu-satunya pemimpin asing yang terus menjalin komunikasi dengannya.
Setelah melakukan tiga kali pertemuan dengan Kim Jong Un, Trump mengatakan hubungan keduanya dekat dan kerap bertukar surat.
Terlepas dari kedekatan tersebut, tiga pertemuan Trump dengan Kim tetap gagal mencapai kesepakatan denuklirisasi di Semenanjung Korea.
Berdasarkan UU Logan 1799, warga negara AS dilarang untuk bernegosiasi dengan pemerintah asing tanpa izin.
Direktur 38 North, proyek Korea Utara yang berbasis di Washington, Jenny Town, mengatakan Trump kerap melebih-lebihkan. Setiap pesan yang dia kirim mungkin hanya salam dan mungkin tidak dibalas.
"Tetapi jika itu benar, dan ada komunikasi yang terjadi pada substansi apa pun tanpa koordinasi atau konsultasi dengan Gedung Putih, itu bisa sangat bermasalah dan berpotensi kontraproduktif dengan kepentingan AS," tambahnya.
Pemerintahan Presiden Joe Biden telah berulang kali mendesak kembalinya dialog dengan Korea Utara, namun enggan melakukan pertemuan tingkat tinggi.
Selama kampanye pilpres pada 2020, Biden menyebut Kim sebagai penjahat. Biden mengatakan dia akan bersedia bertemu dengannya di bawah kondisi yang tepat.
BERITA TERKAIT: