Selama upacara di Gedung Putih pada Rabu (2/2), Biden mengumumkan dibentuknya "Kabinet Kanker" agar perjuangan melawan kanker menjadi salah satu perhatian pemerintah.
Pengumuman tersebut disampaikan Biden bersama istrinya, Jill Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris. Pengumuman itu juga disampaikan di hadapan sekitar 100 orang, termasuk pasien, dokter, perawat, peneliti, dan anggota Kongres.
"Sekarang saya menjadi presiden, ini adalah prioritas Gedung Putih di bawah kepresidenan saya. Titik," ujarnya, seperti dikutip
The New York Times.
Biden kemudian mendorong agar warga Amerika melakukan pemeriksaan, khususnya yang tertunda selama pandemi Covid-19.
Terlepas dari ambisi besar Biden, para ahli kanker mengaku ragu bisa memenuhi target tersebut.
Ahli biostatistik di University of Texas, Donald A. Berry mengatakan, lebih banyak skrining bukanlah jawaban. Satu-satunya kanker yang skriningnya dapat menurunkan angka kematian adalah kanker usus besar dan serviks. Sementara untuk jenis kanker lain sangat dipengaruhi oleh pengobatan.
“Semua orang menyukai deteksi dini, tetapi itu datang dengan bahaya. Kerugiannya kita tahu, tapi manfaat skrining sangat tidak pasti,†ujarnya.
Presiden memiliki minat pribadi yang mendalam dalam penelitian kanker, mengingat pada 2015, putranya Beau, meninggal karena glioblastoma, kanker otak yang agresif.
BERITA TERKAIT: