Mengutip keterangan dari Kementrian Pertahanan Israel,
Al-Arabiya melaporkan pada Sabtu (1/1), penandatanganan kesepakan antara kedua negara itu sudah dilakukan pada Kamis (30/12).
Dalam keterangannya, Kemenhan Israel memperkirakan total harga pembelian unit tersebut menelan niaya sekitar 3,1 miliar dolar AS ( sekitar 44 triliun rupiah).
"Kesepakatan itu, yang ditandatangani pada hari Kamis, merupakan bagian dari peningkatan kemampuan angkatan udara Israel dan termasuk opsi untuk membeli enam helikopter tambahan," kata kementerian dalam sebuah pernyataan pada Jumat (31/12).
Dikatakan bahwa helikopter pertama akan tiba di Israel pada tahun 2026.
Brigadir Jenderal Shimon Tsentsiper, kepala material untuk angkatan udara, mengatakan kepada Radio Angkatan Darat Israel pada Kamis bahwa pesawat pengisian bahan bakar yang dipesan tidak akan dikirim sebelum tahun 2025.
Tsentsiper mengatakan kapasitas pengisian bahan bakar angkatan udara saat ini masih cukup untuk misinya.
"Israel sedang mencoba untuk memajukan pengiriman KC-46, dan akhirnya menginginkan total empat dari mereka," katanya.
Media Israel berspekulasi bahwa pesawat pengisian bahan bakar bisa menjadi sangat penting untuk melakukan serangan udara yang mengancam fasilitas nuklir Iran.
BERITA TERKAIT: