Kecaman itu muncul dari Menteri Komunikasi Kabede Dessisa pada Kamis (25/11), setelah Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan tentang potensi serangan teroris di Ethiopia.
Dalam sebuah konferensi pers, Kebede mengatakan AS harus menahan diri untuk menyebarkan berita palsu yang memalukan dan mencemarkan nama baik Ethiopia.
Sehari sebelumnya, Rabu (24/11), Kedutaan Besar AS di Addis Ababa mendesak warganya untuk meningkatkan kewaspadaan yang tinggi seiring dengan munculnya potensi serangan teror di Ethiopia.
Awal bulan ini, puluhan ribu warga Etiopia berunjuk rasa di ibukota untuk mendukung pemerintah. Mereka mengecam Amerika Serikat atas dugaan campur tangan dalam urusan dalam negeri Etiopia.
Washington kemudian mendesak warganya untuk segera meninggalkan Ethiopia sementara situasi keamanan masih memungkinkan.
Pada Kamis, lusinan pengunjuk rasa berkumpul di Kedubes AS. Mereka memajang spanduk yang bertuliskan "Gangguan Tidak Demokratis" dan "Kebenaran Menang."
Pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed dan pasukan pemberontak dari wilayah Tigray di utara telah berperang selama lebih dari satu tahun, dalam konflik yang telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan orang mengungsi.
Pekan ini pemerintah Irlandia mengatakan Ethiopia telah mengusir empat dari enam diplomat Irlandia karena sikap Irlandia terhadap konflik tersebut.
Jurubicara pemerintah Ethiopia juga telah memperingatkan terhadap ancaman eksternal yang tidak disebutkan namanya dan berulang kali mengkritik pemerintah Barat atas apa yang mereka katakan sebagai liputan perang yang tidak akurat.
BERITA TERKAIT: