Hal itu dibuktikan lewat serangkaian diskusi yang dilakukan oleh para pejabat UEA dengan pihak Taliban dalam beberapa pekan terakhir untuk membahas operasi bandara Kabul sebagai pintu utama untuk keluar-masuk Afghanistan.
Menurut sumber yang dikutip
Reuters, UEA sangat ingin melawan pengaruh diplomatik yang dinikmati oleh Qatar di Afghanistan.
Setelah Amerika Serikat (AS) angkat kaki, Qatar telah membantu menjalankan Bandara Internasional Hamid Karzai. Namun hingga saat ini, Taliban belum meresmikan pengaturan bandara bersama Qatar.
Seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri UEA mengatakan pihaknya tetap berkomitmen untuk terus membantu mengoperasikan bandara Kabul, untuk memastikan akses kemanusiaan dan perjalanan yang aman.
Dua diplomat mengatakan Taliban juga telah meminta bantuan keuangan dari UEA, meskipun mereka menambahkan tidak jelas apakah ini terkait dengan diskusi bandara.
Salah satu masalah utama yang masih harus diselesaikan antara Taliban dan calon operator bandara adalah siapa yang akan memberikan keamanan di lokasi tersebut. Terlebih Taliban mengatakan mereka tidak menginginkan pasukan asing di negara itu setelah mereka kembali berkuasa setelah dua dekade perang.
Namun, pasukan khusus Qatar saat ini memberikan keamanan di dalam perimeter bandara, sementara pasukan khusus Taliban berpatroli di daerah-daerah di luar.
Sejauh ini negara-negara enggan untuk secara resmi mengakui pemerintah Taliban yang dianggap membawa Afghanistan mundur dari isu-isu mengenai perempuan dan minoritas.
BERITA TERKAIT: