Dalam upayanya untuk meraih masa jabatan keempat berturut-turut sebagai presiden negara itu, Ortega telah menjebloskan para pengkritiknya ke penjara. Dia membubarkan partai-partai oposisi, melarang acara kampanye besar dan menutup tempat pemungutan suara secara massal.
Pada bulan Juni, polisi menangkap tujuh calon penantang presiden dengan tuduhan yang pada dasarnya sama dengan makar. Mereka tetap ditahan pada hari pemilihan. Sekitar dua lusin pemimpin oposisi lainnya juga tersapu menjelang pemilihan.
Apa yang dilakukan Ortega mengundang kritik tajam dari sejumlah pihak. Pemilihan tersebut dianggap sebagai pemilihan yang tidak sah dan berada di bawah tekanan.
Sebagai bentuk protes, pihak oposisi meminta warga agar tidak pergi ke pemungutan suara dan tetap tinggal di rumah.
Cengkeraman Ortega atas pengaruhnya di negara yang berbatasan dengan Honduras itu, agaknya akan meraup mayoritas suara dari 4,4 juta penduduk berusia 16 tahun ke atas yang memiliki hak untuk memilih.
Tentara Nikaragua, yang setia kepada Presiden Ortega, bersama dengan polisi telah mengumumkan pengerahan 15.000 tentara di seluruh negeri untuk memberikan 'keamanan' selama pemungutan suara, menyusul aksi protes di Kosta Rika San José, dan di beberapa kota lainnya.
Sejak Minggu pagi (7/11), antrian panjang terlihat berbaris di tempat pemilihan. Beberapa warga pendukung Ortega dengan bangga memamerkan jempol mereka yang bernoda tinta setelah keluar dari bilik suara, seperti dilaporkan
BBC.Pemilihan akan menentukan siapa yang memegang kursi kepresidenan untuk lima tahun ke depan, serta 90 dari 92 kursi di kongres dan perwakilan Nikaragua di Parlemen Amerika Tengah.
José Daniel Ortega Saavedra, 75 tahun, pertama kali menjabat sebagai presiden pada 1985 hingga 1990, sebelum kembali berkuasa pada 2007.
Dia baru-baru ini mendeklarasikan istrinya, V ice President Rosario Murillo, sebagai 'co-presidennya'.
BERITA TERKAIT: