Hillary Clinton Diteriaki Penjahat Perang saat Dilantik sebagai Rektor di Queen's University Irlandia Utara

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 25 September 2021, 16:19 WIB
rmol news logo Pelantikan mantan diplomat top dan kandidat presiden AS Hillary Clinton sebagai rektor wanita pertama di Queen's University di Belfast, Irlandia Utara pada Jumat (24/9)  disambut para pendemo yang meneriakinya penjahat perang.

Pelantikan Clinton sebagai rektor wanita pertama di Queen's sebenarnya dijadwalkan pada 2020, namun kemudian itu tertunda karena pandemi Covid-19. Queen's adalah sebuah universitas negeri yang sudah berdiri sejak tahun 1840-an.

Teriakan ‘Shame on Queen’s, Shame on you' dan ‘Penjahat perang! Keluar! Keluar! Keluar!’ terdengar dari pengunjuk rasa di luar gerbang universitas saat Clinton masuk ke gedung, seorang gadis kecil mengikuti di belakang, membawa jubahnya.

Tak terpengaruh, Clinton terus melangkah maju dan masuk ke dalam kampus.

“Kami senang bahwa Sekretaris Clinton telah dapat melakukan perjalanan ke Belfast untuk secara resmi dilantik sebagai rektor 11 universitas,” kata Ian Greer, presiden dan wakil rektor Queen7s. Dia menyebut Clinton pelayan publik yang diakui secara internasional yang telah menunjukkan komitmen lama untuk Irlandia Utara.

Clinton dianugerahi gelar doktor kehormatan oleh universitas pada tahun 2018, sebagai pengakuan atas pelayanan publik yang luar biasa di AS dan secara global, dan atas kontribusinya terhadap perdamaian dan rekonsiliasi di Irlandia Utara.

Berbicara pada pelantikan, Clinton mengatakan bahwa Irlandia Utara telah menjadi simbol kekuatan demokrasi untuk mengatasi perpecahan dan memberikan perdamaian.

“Saya berharap bisa menginspirasi dan mendorong para siswa Queen's untuk memberikan kontribusi mereka kepada masyarakat dengan kemampuan terbaik mereka,” katanya, seperti dikutip dari RT, Sabtu (25/9).

Namun, bagi pengunjuk rasa di luar, Clinton tak lebih dari seorang ‘penjahat perang’ yang bertanggung jawab atas penghancuran Libya pada 2011, ketika dia memimpin Departemen Luar Negeri selama pemerintahan Obama pertama.

Setelah intervensi ‘perubahan rezim’ yang dipimpin AS, negara Afrika Utara yang dulu makmur itu runtuh ke dalam konflik selama satu dekade antara panglima perang regional. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA