Awal pekan ini, taruna wanita di Institut Militer Universitas Nasional Taras Shevchenko di Kyiv dilatih untuk parade peringatan 30 tahun kemerdekaan Ukraina pada 24 Agustus.
Dari foto yang diunggah Kementerian Pertahanan pada 1 Juli, tampak para taruna mengenakan seragam tempur dan juga sepatu hak tinggi ketika berbaris dalam formasi.
"Hari ini, untuk pertama kalinya, pelatihan dilakukan dengan sepatu hak tinggi. Ini sedikit lebih sulit daripada sepatu bot tentara, tetapi kami mencobanya," ujar seorang kadet, Ivanna Medvid dalam pernyataan Kementerian Pertahanan yang diunggah ke situsnya.
Tidak butuh waktu lama, unggahan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial.
Sejak 2 Juli, muncul beragam reaksi atas unggahan tersebut. Banyak di antara warganet menganggapnya sebagai seksisme, kebencian dan penghinan terhadap wanita yang dilakukan para pemimpin Kementerian Pertahanan.
Bahkan beberapa anggota parlemen wanita mengecam tindakan tersebut.
"Sulit membayangkan ide yang lebih konyol dan berbahaya," kata Inna Sovsun, anggota partai Golos, seperti dikutip
Radio Free Europe, Minggu (4/6).
Dia juga mengatakan bahwa tentara wanita Ukraina, seperti pria, mempertaruhkan hidup mereka dan tidak pantas untuk diejek.
Wakil ketua parlemen, Olena Kondratyuk, mengatakan pihak berwenang harus secara terbuka meminta maaf dan melakukan penyelidikan untuk menemukan siapa yang membuat keputusan tentang sepatu itu.
Layanan pers angkatan bersenjata Ukraina mengatakan sepatu hak tinggi dipilih untuk prajurit wanita sesuai dengan perintah Menteri Pertahanan Andriy Taran.
Taran sebelumnya mengumumkan bahwa para taruna akan mengenakan seragam yang berbeda dalam pawai, termasuk jenis sepatu yang berbeda.
BERITA TERKAIT: