Begitu yang dikatakan oleh Ketua Dewan Tinggi untuk Rekonsiliasi Nasional Abdullah Abdullah dalam sebuah wawancara dengan
Reuters pada Jumat (25/6).
"Saya pikir kita tidak boleh menutup pintu kecuali benar-benar ditutup oleh Taliban. Kami tidak bisa mengatakan tidak untuk pembicaraan meskipun kurangnya kemajuan atau terlepas dari apa yang terjadi di lapangan," ujarnya.
Abdullah mengatakan, dialog perdamaian dimulai dengan optimisme yang dibangun oleh Taliban. Meski demikian, pembicaraan tidak boleh ditinggalkan
“Pada akhirnya, orang terakhir yang terbunuh tidak akan menjadi solusi. Harus ada penyelesaian damai," tegasnya.
Sebelumnya, Abdullah dan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melakukan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden di Gedung Putih terkait bantuan militer dan sipil Washington, serta masalah-masalah yang akan muncul setelah AS menarik pasukannya.
Kunjungan dua hari mantan saingan politik itu mencakup pertemuan dengan anggota parlemen dari kedua belah pihak dan kepemimpinan Pentagon.
Di tengah upaya penarikan pasukan AS, kekerasan Taliban di Afghanistan dilaporkan meningkat.
BERITA TERKAIT: