"Ini merupakan langkah yang lama tertunda. Langkah besar yang membuka kemungkinan solusi diplomatik," salah seorang penduduk Sana'a, seperti dikutip dari
The Guardian.
Osama alFakih, direktur advokasi Mwatana, satu-satunya kelompok hak asasi manusia yang masih beroperasi di negara itu, mengatakan orang-orang Yaman menaruh harapan besar terhadap komitmen Biden itu.
“Banyak orang Yaman yang saya kenal telah meningkatkan harapan mereka sejak pengumuman kemarin untuk melihat berakhirnya perang ini," katanya. Menekankan bahwa pengumuman itu harus disertai dengan upaya nyata yang mendukung akuntabilitas dan reparasi bagi para korban. Orang Yaman menunggu hal itu.
"Mengakhiri dukungan AS untuk koalisi adalah awal yang baik, tetapi tidak cukup hanya sampai di situ!" katanya.
Dalam pidatonya pada Kamis (4/2), Biden mengumumkan pembentukan kembali hubungan AS secara luas dengan seluruh dunia, termasuk dukungan yang tidak perlu dipertanyakan dari pendahulunya Donald Trump untuk monarki Teluk dengan catatan hak asasi manusia yang buruk di dalam dan luar negeri.
Biden mengatakan konflik di Yaman telah menciptakan bencana kemanusiaan. Sebanyak 233.000 orang tewas dan 80 persen dari 29 juta orang bergantung pada bantuan.
Biden dengan tegas mengatakan bahwa perang harus diakhiri.
"Dan untuk menggarisbawahi komitmen kami, kami mengakhiri semua dukungan Amerika untuk operasi ofensif dalam perang di Yaman, termasuk penjualan senjata," kata Biden, seperti dikutip dari
Times of Israel.
Namun begitu, AS akan terus memberikan dukungan defensif ke Arab Saudi terhadap serangan rudal dan drone lintas batas oleh pemberontak Houthi yang didukung Iran.
BERITA TERKAIT: