Perempuan berusia 53 tahun, yang digadang-gadang akan menjadi calon lawan kuat Emmanuel Macron dalam pemilihan Presiden Prancis 2022 itu berpendapat bahwa jilbab adalah pakaian para ekstremis.
"Saya menganggap jilbab adalah pakaian Islamis," kata Le Pen kepada wartawan pada konferensi pers, seperti dimutip6dari
AFP, Jumat (29/1). Ia merujuk kepada islamis sebagai ideologi politik.
Le Pen telah mencalonkan diri sebanyak diri dua kali dalam pilpres Prancis. Ia mengalami kekalahan telak dari Macron, sang pendatang baru di dunia politik Prancis pada 2017.
Namun dalam jajak pendapat baru-baru inimenunjukkan dia berada dalam jarak yang sangat dekat dari Macron.
Jajak pendapat yang dilakukan secara online oleh Harris Interactive menunjukkan, jika pemilihan presiden putaran terakhir diadakan hari ini, Le Pen akan mengumpulkan 48 persen sementara Macron akan terpilih kembali dengan 52 persen, lapor surat kabar Le Parisien .
Margin, yang tersempit yang pernah tercatat, memicu peringatan di arus utama politik Prancis ketika krisis kesehatan dan ekonomi ganda yang disebabkan oleh pandemi virus korona menyapu seluruh negeri.
"Itu yang tertinggi yang pernah dia capai," kata Jean-Yves Camus, seorang ilmuwan politik Prancis yang mengkhususkan diri pada sayap kanan, sambil menambahkan bahwa "terlalu dini untuk mengambil jajak pendapat begitu saja".
Dia mengatakan, Le Pen mendapat keuntungan dari frustrasi dan kemarahan atas pandemi, yang menempatkan Prancis di ambang penutupan ketiga. Hal lain yang menguntungkannya adalah kasus pemenggalan kepala seorang guru sekolah Prancis oleh seorang Islamis Oktober lalu.
"Itu berdampak besar pada opini publik," kata pakar dari Yayasan Jean-Jaures kepada
AFP.
"Dan di bidang ini, Marine Le Pen memiliki keuntungan: partainya terkenal karena posisinya yang mengecam Islamisme."
BERITA TERKAIT: