Prancis Ijinkan Warganya Yang Terjebak Di Inggris Untuk Pulang, Asalkan Dites Negatif Covid-19

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Rabu, 23 Desember 2020, 08:31 WIB
Prancis Ijinkan Warganya Yang Terjebak Di Inggris Untuk Pulang, Asalkan Dites Negatif Covid-19
Paris Charles de Gaulle Airport/Net
rmol news logo Kantor Perdana Menteri Prancis mengumumkan bahwa mereka akan mengijinkan warganya serta warga Uni Eropa lainnya yang berasal dari Inggris untuk memasuki negaranya, dengan syarat mereka harus memiliki tes negatif Covid-19 yang berusia kurang dari 72 jam. Aturan tersebut mulai berlaku pada Selasa (22/12) tengah malam waktu setempat.

Prancis dan sekitar 50 negara lain telah menutup perbatasan mereka ke Inggris pada hari Senin (21/12) karena kekhawatiran virus corona baru yang sangat menular. Hal itu menyebabkan kekacauan perjalanan dan membuat banyak warga asing terdampar di Inggris.

"Warga negara Inggris atau warga negara ketiga yang memiliki tempat tinggal resmi di Prancis atau di tempat lain di Uni Eropa juga dapat memasuki atau transit negara itu dari Inggris jika mereka memiliki tes Covid-19 negatif," kata kantor Perdana Menteri Jean Castex dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AFP, Rabu (23/12).

Pemerintah membuat daftar beberapa kategori orang yang akan menerapkannya, termasuk mereka yang transit kurang dari 24 jam di zona internasional, diplomat dan keluarganya, petugas kesehatan, staf maskapai penerbangan, dan operator bus atau kereta api.

Aturan baru tersebut akan diberlakukan hingga 6 Januari mendatang, namun itu akan kembali ditinjau setelah pembicaraan bilateral Inggris-Prancis atau Uni Eropa.

Pernyataan perdana menteri tidak menyebutkan pengemudi truk, yang telah diblokir di Inggris dalam jumlah ratusan sejak perbatasan ditutup, dengan banyak pengemudi terjebak selama berhari-hari.

Menteri Transportasi Prancis Jean-Baptiste Djebbari mengatakan di televisi BFM, bahwa pengumuman tentang dimulainya kembali pengangkutan barang akan dilakukan Selasa malam dalam koordinasi dengan otoritas Inggris.

"Saya mengimbau pengemudi truk untuk tidak hadir di titik embarkasi di Kent agar tidak terjadi penyumbatan sistem, yang kini sudah beroperasi kembali," ujarnya.

Djebbari mengatakan tujuannya adalah memulai kembali pengiriman barang untuk menghindari celah dalam rantai logistik, khususnya untuk produk makanan.

"Pesawat, kapal, dan kereta Eurostar akan mulai beroperasi lagi mulai (Rabu) pagi," cuit Djebbari.

Menteri transportasi Inggris Grant Shapps mengatakan pengemudi truk yang terdampar di Inggris akan mulai menerima tes Covid-19 pada hari Rabu (23/12).

"Kami akan memastikan bahwa besok kami berada di luar sana, memberikan tes," kata Shapps, tetapi dia memperingatkan bahwa seluruh proses akan memakan waktu.

"Ini akan memakan waktu dua atau tiga hari sampai semuanya beres," lanjutnya.

Penutupan perbatasan juga telah menyebabkan panic buying di beberapa pusat perbelanjaan. Para pembeli menyerbu dan menelanjangi rak kalkun, tisu toilet, roti dan sayuran di beberapa supermarket.

Sementara pemerintah mengatakan ada cukup makanan untuk Natal, pemimpin pasar Tesco dan runner-up Sainsbury's justru megungkapkan hal sebaliknya. Keduanya mengatakan pasokan makanan akan segera terpengaruh jika gangguan berlanjut.

"Jika tidak ada yang berubah, kami akan mulai melihat celah dalam beberapa hari mendatang pada selada, beberapa daun salad, kembang kol, brokoli dan buah jeruk," kata Sainsbury's.

Sementara Tesco mengatakan telah memberlakukan batasan pembelian sementara pada beberapa produk penting untuk menghindari kekurangan. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA