Abu Aliya yang berusia 15 tahun ditembak oleh pasukan keamanan Israel selama protes di Al-Mughayyir yang digelar oleh warga Palestina untuk menentang pembangunan pemukiman Israel.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB menuturkan, warga Palestina yang didominasi oleh pemuda melemparkan batu ke arah tentara Israel yang membalas dengan menembakkan peluru logam berlapis karet, gas air mata, dan peluru tajam.
Pelapor khusus PBB di Palestina, Michael Lynk dan Agnes Calamard mengaku merasa sangat terganggu dengan kurangnya akuntabilitas secara keseluruhan atas pembunuhan anak-anak Palestina selama beberapa tahun terakhir.
"Pembunuhan Ali Ayman Abu Aliya oleh Pasukan Pertahanan Israel, dalam keadaan di mana tidak ada ancaman kematian atau cedera serius pada pasukan keamanan Israel, adalah pelanggaran berat terhadap hukum internasional," ujar keduanya dalam pernyataan bersama yang dikutip
Arab News, Sabtu (19/12).
Abu Aliya ditembak di bagian perut dengan peluru dan meninggal beberapa jam setelah dirawat di rumah sakit. Dia adalah anak ke-6 yang dibunuh oleh pasukan keamanan pada tahun ini.
Dari 1 November 2019 hingga 31 Oktober 2020, sebanyak lebih dari seribu anak Palestina.
"Anak-anak menikmati hak perlindungan khusus di bawah hukum internasional," kata Lynk dan Callamard.
"Setiap pembunuhan ini menimbulkan keprihatinan yang mendalam tentang kepatuhan Israel pada hak asasi manusia dan kewajiban hukum kemanusiaannya sebagai kekuatan pendudukan," sambungnya.
Pasukan keamanan Israel mengatakan penyelidikan atas kematian Abu Aliya akan dilakukan. Namun, pelapor PBB mencatat bahwa penyelidikan internal terhadap penembakan fatal warga Palestina jarang menghasilkan pertanggungjawaban yang signifikan.
Organisasi masyarakat sipil telah mendokumentasikan 155 kasus anak-anak Palestina yang dibunuh oleh tentara Israel sejak 2013 menggunakan amunisi langsung atau senjata pengendali massa. Hanya dalam tiga kasus tuntutan pidana diajukan, dan kemudian dibatalkan di salah satunya.
"Rendahnya tingkat pertanggungjawaban hukum atas pembunuhan begitu banyak anak oleh pasukan keamanan Israel tidak layak untuk sebuah negara yang menyatakan bahwa ia hidup berdasarkan aturan hukum," kata Lynk dan Callamard.
Mereka mendesak pemerintah Israel untuk menyelidiki catatan hak asasi manusia ini dengan cara yang adil dan transparan yang memenuhi standar internasional yang diterima, untuk memastikan bahwa anak-anak yang hidup di bawah pendudukan tidak lagi menghadapi kematian atau cedera ketika menggunakan hak sah mereka untuk melakukan protes, dan bahwa budaya impunitas atas kesalahan militer diakhiri.
BERITA TERKAIT: