"Sejujurnya, kami tidak begitu memahami reaksi emosional dari Yang Terhormat Tuan Ilham Aliyev, atas komentar Sergey Lavrov," kata sumber di Kementerian Luar Negeri, seperti dikutip dari
TASS, Jumat (6/11).
"Mungkin asisten presiden menyajikan interpretasi mereka sendiri," ujar sumber.
Sumber tersebut mengingat kutipan yang tepat dari wawancara Lavrov kepada surat kabar Kommersant pada 3 November lalu: “Kami, tentu saja, prihatin tentang internasionalisasi konflik Nagorno-Karabakh dan keterlibatan militan dari Timur Tengah," isi dari artikel itu.
"Kami telah berulang kali meminta pihak-pihak eksternal untuk menggunakan kemampuan mereka menahan pengiriman atau transfer tentara bayaran yang jumlahnya sudah mendekati dua ribu.
"Topik ini, secara khusus, diangkat oleh Presiden Rusia Vladimir Putin selama percakapan telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada 27 Oktober, dalam kontak rutin dengan para pemimpin Azerbaijan dan Armenia. Kami terus mempromosikan posisi kami melalui berbagai saluran," lanjut isi artikel itu mengutip kalimat Lavrov.
“Seperti yang Anda lihat, tidak ada celaan dalam komentar baik terhadap Azerbaijan maupun negara lain,†lanjut sumber di kementerian itu.
Sumber itu mencatat bahwa Moskow selalu mendekati perannya sebagai mediator dengan sangat hati-hati.
“Presiden Aliyev sendiri telah berulang kali menyatakan ini. Kami menegaskan kembali komitmen kami untuk mempromosikan penyelesaian damai, politik, dan diplomatik dari konflik Nagorno-Karabakh.
"Pada saat yang sama, kami tetap yakin bahwa penetrasi militan tentara bayaran ke Kaukasus mengancam stabilitas dan keamanan semua negara di kawasan, termasuk Azerbaijan dan Rusia,†kata sumber lain di kementerian yang sama.
Sebelumnya, diberitakan bahwa Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev telah menanggapi pernyataan Lavrov dengan emosi.
Aliyev berkata; “Saya, terus terang, menyesali pejabat tinggi negara yang seharusnya netral dan seharusnya bertindak sesuai mandat yang diberikan kepada mereka oleh OSCE. Menggunakan informasi dan rumor ini yang tidak diverifikasi, itu sama sekali tidak berdasar."
“Kedua, kami tidak memiliki tentara bayaran. Saya telah mengatakannya berkali-kali. Kami tidak membutuhkan mereka. Kami memiliki tentara dengan 100 ribu pejuang dan kami dapat merekrut beberapa kali lebih banyak jika kami mengumumkan mobilisasi total, yang tidak kami lakukan, tidak seperti Armenia!" ujar Aliyev.
"Tidak ada bukti adanya pejuang asing yang bertempur di pihak kami. Tidak ada bukti selama ini," kata Aliyev menegaskan dalam wawancaranya dengan EFE Spanyol.
Pihak Armenia sendiri mempertanyakan mengapa apa yang dipikirkan Baku ketika melibatkan militan dalam konflik Nagorno-Karabakh, karena mereka menimbulkan ancaman tidak hanya bagi wilayah tersebut tetapi juga bagi banyak negara di sekelilingnya.
BERITA TERKAIT: