Berdasarkan keterangan dari pihak Twitter, penangguhan dilakukan karena adanya unggahan ujaran kebencian, kekerasan, dan tindakan serupa lainnya dalam akun tersebut.
"Aturan kami adalah memastikan semua orang dapat berpartisipasi dalam percakapan publik dengan bebas dan aman," ujar Twitter dalam situs resminya, seperti dikutip
Anadolu Agency pada Kamis (5/11).
Penangguhan itu sontak langsung memicu respons di media sosial karena dianggap sebagai "kesalahan luar biasa".
"Saya mengerti bahwa Anda tidak lagi memverifikasi akun di kawasan karena beberapa alasan, tetapi menangguhkan akun Menteri Luar Negeri di masa perang adalah kesalahan luar biasa," kata seorang akun.
Pengguna lain berusaha untuk bertanya pada CEO Twitter, Jack Dorsey terkait dengan langkah tersebut.
"Twitter mengapa, @jack? Mengapa akun resmi milik Menteri Luar Negeri Republik Azerbaijan @bayramov_jeyhun ditangguhkan?" tanyanya.
Setelah banyaknya kontroversi, akhirnya Twitter memulihkan kembali akun tersebut dan ribuan pengikut langsung menghampiri Bayramov.
Penangguhan yang dilakukan oleh Twitter terjadi di tengah konflik Nagorno-Karabakh antara Azerbaijan dan Aremenia.
Sejak bentrokan meletus pada 27 September, kedua negara saling menyalahkan satu sama lain yang membuat banyak korban sipil meninggal dunia.
Tiga gencatan senjata yang di tengahi oleh Rusia dan Amerika Serikat (AS) pun berakhir gagal dengan serangkaian serangan dari kedua belah pihak.
BERITA TERKAIT: