Menanggapi keraguan organisasi tersebut, Gedung Putih pada Selasa (1/9) menegaskan AS tidak akan bergabung dalam upaya global untuk mengembangkan, memproduksi, dan mendistribusikan vaksin virus corona karena keterlibatan WHO, seperti dimuat
The Washington Post.
"AS akan terus melibatkan mitra internasional kami untuk memastikan kami mengalahkan virus ini. Tetapi kami tidak akan dibatasi oleh organisasi multilateral yang dipengaruhi oleh WHO dan China yang korup," ujar jurubicara Gedung Putih, Judd Deere dalam sebuah pernyataan.
"Presiden tidak akan mengeluarkan biaya untuk memastikan bahwa setiap vaksin baru mempertahankan standar emas FDA (Administrasi Makanan dan Obat-obatan) kami sendiri untuk keamanan dan kemanjuran, diuji secara menyeluruh, dan menyelamatkan nyawa," tambahnya.
Perseteruan antara AS dan WHO dimulai pada Minggu (30/8), ketika Komisaris FDA, Stephen Hahn mengatakan, pihaknya siap untuk mengotorisasi vaksin virus corona sebelum uji klinis tahap 3 selesai.
Mengomentari pernyataan tersebut, Kepala Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan pada Senin (31/8) mengatakan, pembuatan vaksin secara terburu-buru dapat menimbulkan risiko.
"Jika Anda bergerak terlalu cepat untuk memvaksinasi jutaan orang, Anda mungkin kehilangan efek samping tertentu," ujar Ryan.
Sejauh ini, belum ada vaksin virus corona yang disetujui, kecuali Sputnik V buatan Rusia yang juga belum merampungkan uji coba skala besar.
Sebelum perseteruan mengenai vaksin, Trump telah membekukan kontribusi AS untuk WHO. Kemudian, pada Mei, Washington memutus hubungan dengan organisasi tersebut karena dianggap terlalu memihak China.
BERITA TERKAIT: