Bertempat di Rose Garden, Gedung Putih pada Selasa (25/8), Melania menyampaikan pidatonya secara virtual. Dengan suara lembut namun menggebu-gebu, perempuan 50 tahun tersebut menyampaikan isu rasisme.
Sejak pemilihan 2016, Melania memang menjadi daya tarik dukungan para imigran terhadap Donald Trump. Sebagai seorang imigran, Melania tepat untuk menyuarakan isu tersebut.
"Seperti Anda semua, saya telah merenungkan kerusuhan rasial di negara kita. Sungguh kenyataan pahit bahwa kami tidak bangga dengan (kerusuhan rasil) menjadi bagian dari sejarah," ujar Melania dalam video yang diunggah
BBC.
"Saya mendorong Anda untuk fokus pada masa depan kita, sambil tetap belajar dari masa lalu," sambungnya.
Melania mengatakan, pemerintahan suaminya telah memberikan penghormatan 100 tahun ratifikasi Amandemen ke-19 Konstitusi AS untuk memberikan hak pilih pada perempuan.
"Saya merefleksikan pengaruh suara perempuan dalam cerita bangsa kita dan betapa bangganya saya akan memberikan suara lagi untuk Donald, November ini," ucap Melania.
"Kita harus memastikan bahwa perempuan didengar dan impian Amerika terus berkembang," tegasnya.
Kendati begitu, berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Washington Post baru-baru ini menunjukkan, Joe Biden memimpin Trump dalam dukungan di kalangan perempuan. Biden mendapatkan 56 persen, sementara Trump 40 persen.
"Sebagai seorang imigran, dan wanita yang sangat mandiri. Saya mengerti betapa istimewa yang kami miliki," katanya.
Di balik pidato istrinya, Trump telah dikritik karena menggunakan Gedung Putih sebagai latar belakang konvensi. Bahkan itu dilakukan di tengah munculnya kembali isu penggunaan fasilitas pemerintah untuk kampanye Trump.
BERITA TERKAIT: