Aksi unjuk rasa itu juga dipicu oleh pengunduran diri duta besar Lebanon untuk Yordania yang menyalahkan pemerintah dengan mengatakan 'kelalaian total' oleh otoritas negara itu menandakan perlunya perubahan kepemimpinan.
Sepanjang jalan menuju gedung parlemen terlihat mengerikan, puing-puing dari ledakan yang hari Selasa lalu, masih mengotori seluruh area unjuk rasa, seperti dikutip dari AFP, Jumat (7/8).
Luka-luka dan air mata para korban masih begitu terasa, sama sekali belum pergi apalagi sembuh. Namun, puluhan aktivis anti pemerintah telah menggaungkan kemarahannya.
Duta Besar Indonesia untuk Libanon, Hajriyanto Y. Tohari mengatakan, demo di Lebanon itu selalu ada. Bahkan sudah jadi bagian dari keseharian warga Lebanon.
"Kebebasan berpolitik di Lebanon setara dengan di negara-negara Eropa," kata Hajriyanto dalam acara RMOL World View, Jumat (7/8) malam.
"Kebebasan berpendapat pun dijamin negara. Tidak ada pembatasan pada media massa dan demonstrasi. Mereka bisa berdemo kapan saja, bahkan malam hingga dini hari."
Hajriyanto juga menyoroti demonstrasi yang terjadi pasca ledakan, di saat warga Beirut masih dalam suasana duka.
"Ya, begitu. Mereka bebas kapan saja mau demo. Yang menghentikan demo di sini hanya musim dingin. Tapi, begitu hangat lagi, mereka demo lagi,†kata Hajriyanto.
Aksi pasca ledakan itu terpaksa dibubarkan aparat karena kondisi sudah semakin mengkhawatirkan. Para pengunjuk rasa telah menyulut api. Mereka merusak toko-toko dan melemparkan batu ke pasukan keamanan, yang kemudian menanggapinya dengan gas air mata.
Aktivis telah menyerukan demonstrasi anti-pemerintah besar-besaran pada hari Sabtu - sebuah acara yang mereka beri judul "gantung mereka di tiang gantungan."