Ada beberapa poin yang dibahas oleh Retno dan de Barderi dalam kesempatan tersebut, terutama terkait penguatan hubungan bilateral dan kerja sama ekonomi kedua negara.
Kepada wartawan pada Jumat (7/8), Retno mengungkap, Indonesia dan Kolombia saat ini tengah menjajaki kemungkinan kerja sama perdagangan, investasi, dan pariwisata dalam mekanisme
Preferential Trade Agreement (PTA).
"Selain itu, interaksi antara pebisnis kedua negara (juga) harus diperkuat, termasuk pendirian
Indonesia-Latin America Chamber of Commerce," sambungnya.
Bukan hanya itu, kedua negara juga saling mendukung kerja sama melalui ASEAN-Pacific Alliance Cooperation.
Tahun lalu pun, Kimia Farma telah menandatangani kesepakatan dengan Inver3 SAS untuk memasarkan produk farmasa Indonesia di Kolombia dan negara-negara Aliansi Pasifik.
"Dan Indonesia menyambut baik rencana asesi Kolombia terhadap
Treaty of Amity and Cooperation (TAC) untuk mendukung stabilitas dan perdamaian di kawasan," tambah Retno.
Dalam konteks forum internasional, Indonesia yang mendapatkan presidensi di Dewan Keamanan PBB akan berkomitmen mendukung pemeliharaan perdamaian. Salah satunya melalui implementasi kesepakatan damai antara pemerintah Kolombia dengan
The Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC).
Selain melakukan diskusi, Retno dan de Barberi juga menandatangani dua nota kesepahaman, yaitu pembebasan visa untuk pemegang paspor biasa serta pembangunan platform konsultasi politik antar Kementerian Luar Negeri dua negara.
Terkait pembebasan visa, Retno mencatat, pemberlakuan akan mengikuti aturan selama pandemik Covid-19.
Guna memperkuat hubungan kedua negara, keduanya juga membahas persiapan kunjungan Presiden Kolombia, Iván Duque Márquez ke Indonesia yang dijadwalkan pada 2021.
BERITA TERKAIT: