Pernyataan dari badan intelijen itu bertentangan dengan Gedung Putih yang berkali-kali mengklaim bahwa bukti-bukti itu sudah lengkap, seperti dikutip dari
The Guardian, Senin (4/5).
Badan intelijen juga pada akhirnya membeberkan hasil menyelidikannya, bahwa 'dokumen 15 halaman' yang kemarin lalu disorot oleh Australian Daily Telegraph dengan tuduhan China telah menutup-nutupi kasus, masih terus kaji lagi.
Badan intelijen yang menamakan diri 'Five Eyes' itu terdiri dari lima negara aliansi antara Inggris, AS, Australia, Selandia Baru, dan Kanada. Mereka percaya China masih menyembunyikan bagaimana virus corona awalnya menyebar di Wuhan pada pergantian tahun lalu. Namun, mereka khawatir hal itu semakin membuat situasi internasional bertambah panas.
Sebelumnya, Mike Pompeo, sekretaris negara AS, mengatakan: "Saya dapat memberi tahu Anda bahwa ada sejumlah besar bukti bahwa ini berasal dari laboratorium itu di Wuhan."
Tetapi sebenarnya tidak ada bukti yang ditawarkan oleh Pompeo untuk mendukung pernyataannya. Namun, Informasi itu telah beredar selama sebulan terakhir di Inggris, AS dan Australia, yang menimbulkan pertanyaan tentang seberapa tingkat keamanan pada Institut Virologi Wuhan itu.
Dugaan sementara, ada pekerja di laboratorium yang mungkin tidak mengenakan pakaian pelindung yang memadai ketika ada kencing kelelawar yang mengenai tubuh peneliti.
Tetapi tidak ada yang mengindikasikan kebocoran dari lab bisa menyebabkan pandemi, kata sumber.
Klaim lainnya adalah adanya rekayasa secara genetika di Wuhan, meskipun ada kesepakatan kedua lembaga ilmiah dan intelijen bahwa tidak ada bukti untuk ini.
Sebuah laporan di Washington Post dua minggu kemudian menyoroti temuan diplomatik AS dari tahun 2018, yang mengklaim ketika melakukan kunjungan ke lokasi, terlihat laboratoium itu tidak memiliki teknisi yang terlatih secara memadai untuk pekerjaan keamanan tingkat tinggi.