Akhirnya Afrika Mengakui Tidak Ada Bukti Diskriminasi Terhadap Warganya Di Guangzhou

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Rabu, 15 April 2020, 18:21 WIB
Akhirnya Afrika Mengakui Tidak Ada Bukti Diskriminasi Terhadap Warganya Di Guangzhou
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Nigeria, Femi Gbajabiamila Saat Pertemuan dengan Dubes China Zhou Pingjian /Net
rmol news logo Menteri Luar Negeri Nigeria Geoffrey Onyeama akhirnya mengatakan penyelidikan terhadap dugaan penganiayaan terhadap orang-orang Nigeria di Guangzhou selatan China tidak menemukan bukti diskriminasi.

Onyeama menguraikan hasil penyelidikan para diplomat Nigeria di Guangzhou, bahwa karantina wajib diberlakukan oleh otoritas kesehatan Guangzhou setelah orang-orang di lingkungan itu dites positif mengidap virus corona, dan mereka yang terisolasi tidak diizinkan untuk kembali ke rumah atau hotel mereka.

Onyeama melakukan konferensi pers bersama dengan Duta Besar Tiongkok untuk Nigeria Zhou Pingjian, pada hari Selasa kemarin, melansir CGTN, Rabu (15/4).

Gambar orang-orang Nigeria di jalan-jalan dengan harta benda mereka sangat menyedihkan, kata Onyeama, sampai seorang pengusaha Nigeria di Guangzhou memposting klip audio yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Menurut pengusaha itu, beberapa warga Nigeria dipastikan memiliki Covid-19 setelah tiba di Guangzhou. Pemilik restoran yang populer dengan banyak orang Afrika, termasuk orang Nigeria, juga terinfeksi.

Pejabat pemerintah setempat segera menutup tempat-tempat ini dan meminta orang-orang yang terlibat untuk menjalani karantina selama 14 hari bersama dengan kebijakan ketat lainnya untuk mencegah penyebaran virus.

Dengan penyelidikan dan terverifikasinya kabar bahwa China tidak melakukan diskriminasi terhadap warga Afrika membuat para pejabat Afrika lega. Onyeama mengatakan dia sendiri telah memverifikasi apa yang dikatakan pengusaha itu di pos audio dengan Kedutaan Besar China di Nigeria.

"Sekarang kami telah belajar kebenaran dan kami senang bahwa institut kami di Tiongkok bekerja sama dengan mitra China mereka," ujar Onyeama.

Onyeama mengatakan tidak ada yang salah dengan Guangzhou menerapkan kebijakan anti-epidemi yang ketat berdasarkan pengalaman Wuhan. Namun, ia juga meminta pihak berwenang Guangzhou untuk meningkatkan komunikasi mereka saat menerapkan kebijakan agar tidak ada lagi kesalahpahaman.

Duta Besar Zhou menegaskan bahwa China tidak memiliki toleransi terhadap rasisme.

Zhou menekankan bahwa hubungan China-Nigeria tidak bisa teroecahkan hanya karena adanya kesalahpahaman ini. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA