Diketahui bahwa dalam aksi unjuk rasa pada Jumat dan Sabtu pekan kemarin, sebanyak 74 warga Irak meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka karena bentrok dengan pasukan keamanan di tengah aksi unjuk rasa anti-pemerintah.
Dengan demikian, jumlah korban meninggal dunia selama gelombang aksi unjuk rasa di Irak yang terjadi sejak awal Oktober lalu adalah sebesar 231 orang.
Para pelajar geram dengan kondisi tersebut dan memutuskan untuk menyatukan suara untuk turun ke jalanan. Akibatnya, sejumlah sekolah dan universitas terpaksa ditutup.
Para pelajar itu melakukan aksi pada hari Minggu (27/10) yang berpusat di Zona Hijau di pusat ibukota.
Protes ini adalah kelanjutan dari gelombang demonstrasi yang digerakkan karena protes masalah ekonomi yang dimulai pada awal Oktober.
Dikabarkan
Al Jazeera, gelombang unjuk rasa ini telah menjadi tantangan terbesar bagi pemerintahan Perdana Menteri Abdul Mahdi. Dia berjanji untuk mengatasi keluhan para demonstran dengan merombak kabinetnya dan memberikan paket reformasi.
Namun, langkah itu tidak banyak membantu memadamkan kemarahan para pengunjuk rasa. Mereka bukan hanya terfokus pada pemerintahan Mahdi tetapi juga pada pembentukan politik Irak yang lebih luas, yang mereka katakan telah gagal meningkatkan kehidupan warga negara.
BERITA TERKAIT: