Dialoh terbaru dilakukan pada Minggu (27/10) dan merupakan putaran pertama pembicaraan langsung keduanya sejak Presiden Israel Reuven Rivlin menugasi Gantz yang merupakan mantan kepala militer untuk membentuk pemerintah.
Langkah ini diambil di tengah kebuntuan politik yang dialami Israel menyusul pemilihan yang tidak meyakinkan bulan lalu di mana Partai Likud Netanyahu maupun Partai Biru dan Putih Gantz sama-sama mengantongi kekuatan suara yang hampir sama.
Biru dan Putih menguasai 33 kursi di parlemen dan Likud memegang 32 kursi. Kedua partai bersama-sama memiliki cukup dukungan untuk membentuk pemerintahan. Namun pembicaraan sebelumnya gagal membuat kedua kubu untuk membentuk pemerintahan persatuan.
Meski begitu, dialog terbaru belum membuahkan hasil signifikan.
"Keduanya membahas struktur opsi politik yang tersedia," kata sebuah pernyataan bersama kedua belah pihak.
"Pertemuan lain sudah diantisipasi antara keduanya," sambungnya seperti dimuat
Al Jazeera.
Dalam pernyataan yang sama disebut, meski keduanya mendukung gagasan kesepakatan persatuan, namun mereka tidak sepakat tentang siapa yang harus memimpinnya.
Netanyahu ingin sekutu agama dan nasionalis tradisionalnya duduk bersama Likud dan Biru Putih.
Sedangkan Gantz tidak ingin membentuk pemerintahan dengan sekutu garis keras Netanyahu. Dia juga menolak untuk melayani di bawah pemerintahan yang dipimpin Netanyahu karena tengah menghadapi kemungkinan dakwaan untuk tuduhan korupsi.
BERITA TERKAIT: