"Seluruh badai disebabkan oleh RUU Ekstradisi yang diprakarsai oleh pemerintah. Jika kita ingin pergi dari kesulitan dan mencari jalan keluar, pemerintah harus mengambil tanggung jawab terbesar untuk melakukannya," ujar Lam seperti yang dilansir dari
Channel News Asia.
Dialog publik tersebut dihadiri oleh 150 orang demonstran yang dipilih secara acak dari 20 ribu lamaran yang masuk. Namun, jumlah itu tetap dikerucutkan lagi. Hingga, hanya 30 audiens terpilih saja yang dapat meyuarakan pendapatnya.
Dari 30 audiens tersebut, 24 orang menyatakan kritik secara terbuka kepada pemerintah, 2 orang memberi komentar netral, dan empat lainnya justru menyatakan simpati kepada pemerintahan Lam.
Dalam dialog tersebut, sebagian besar demonstran menuntut Lam untuk membentuk komisi penyelidikan independen atas dugaan kebrutalan polisi. Para audiens mengatakan polisi telah menjadi alat politik pemerintah dan saat ini semua orang kehilangan kepercayaan kepada polisi.
Bahkan ada seorang wanita yang meminta Lam untuk mengundurkan diri karena tidak cocok untuk memimpin Hong Kong.
Menanggapi komentar-komentar para demonstran, Lam mengatakan,"Saya harap Anda semua mengerti bahwa kami masih peduli dengan masyarakat Hong Kong. Hati kami masih ada. Kami akan menjaga kepedulian kami untuk masyarakat ini."
Sementara dialog berlangsung damai di dalam stadion, para demonstran berpakaian hitam lainnya yang menunggu di luar tetap berunjuk rasa. Mereka meneriakkan slogan yang berarti "pertahankan kekuatanmu".
BERITA TERKAIT: