"Sangat tak terduga dan tak masuk akal bahwa AS terus memberi makan sabuk koveyor yang mengalir ke konflik menghancurkan di Yaman," ujar peneliti Amnesty Yaman, Rasha Mohamed seperti yang dilansir dari Al Jazeera.
Lebih lanjut, Mohamed mengatakan negara-negara pemasok senjata seperti AS dan negara-negara Eropa tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya atas risiko senjata yang mereka jual. Menurutnya, secara sistematis, apa yang dilakukan oleh AS telah melanggar hukum humaniter internasional.
"Secara sengaja mengarahkan serangan terhadap warga sipil atau benda-benda sipil, serangan tidak proporsional dan serangan sembarangan yang membunuh atau melukai warga sipil adalah kejahatan perang," kata Mohamed.
Pernyataan tersebut muncul setelah Amnesty International menganalisa foto sisa-sisa serangan rudal dan menyimpulkan amunisi yang menghantam sebuah bangunan perumahan di Yaman adalah buatan AS. Diidentifikasi, amunisi tersebut seberat 500 pound atau 230 kg GBU-12 Paveway II.
Diketahui, bom tersebut dijatuhkan pada 28 Juni di Provinsi Taiz dan dibuat oleh perusahaan-perusahaan yang berpusat di AS bernama Raytheon. Akibat serangan ini, 6 warga sipil meninggal dunia.
Koalisi Saudi mengaku serangan tersebut menargetkan markas pemberontak Houthi yang berada 1 km dari lokasi pemukiman. Namun, menurut keterangan saksi, tidak ada pasukan militer maupun Houthi yang berada di sekitar.
Hingga kini, menurut PBB, konflik Yaman telah menjadi krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Konflik ini mennyebabkan jutaan orang terlantar dan sekitar 24.1 juta orang membutuhkan bantuan.
BERITA TERKAIT: