"Ada beberapa kerja sama yang memiliki nilai penting yang disepakati dalam perÂtemuan Mahathir Mohammad dengan Presiden Jokowi. Hal itu selain bisa memperkuat ekonomi kedua negara, dapat membentuk poros baru. Dan, saya kira sudah sebagai negara serumpun, hubungan antara Indonesia dan Malaysia seÂmakin erat," kata Abra kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Seperti diketahui, dipaparÂkan Abra, Malaysia dan IndoÂnesia sepakat akan melawan kampanye hitam terhadap komoditas kelapa sawit yang marak diembuskan oleh Uni Eropa. Selain itu, kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama bidang perekonomian.
Dia menilai, penguatan ekonomi Indonesia dan MaÂlaysia tentu menarik. Sebab
Mahatir selama ini diasoÂsiasikan lebih dekat ke Jepang dibanding China. Apalagi, belum lama Mahatir memÂbatalkan kerja sama dengan Singapura terkait proyek kereÂta. Sementara, Presiden Jokowi diasosiasikan lebih intensif dengan China.
"Ini menarik karena kedua negara memiliki kedekatan yang berbeda dalam kerja sama. Indonesia dan Malaysia dapat menjadi poros baru," jelasnya.
Abra menyebutkan, saat ini hubungan perdagangan Indonesia dan Malaysia cuÂkup tinggi. Pada 2017, total perdagangan bilateral kedua negara mencapai Rp 257 triliun atau meningkat 22 persen jika dibandingkan 2016.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil LaÂhadalia juga menyambut baik peningkatan kerja sama IndoÂnesia dan Malaysia. Karena, menurutnya, perdagangan kedua negara beberapa tahun terakhir mengalami tren penuÂrunan, sejalan dengan pasang surut hubungan persahabatan kedua negara. ***
BERITA TERKAIT: