Hal in ditegaskan Dutabesar Republik Islam Iran Valiollah Mohammadi dalam jamuan makan malam dengan pendiri Universitas Bung Karno (UBK) Rachmawati Soekarnoputri di kediaman dinas Dubes Iran di Jalan Madiun, Menteng, Selasa malam (24/4).
Jamuan makan malam itu adalah balasan atas pertemuan keduanya beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut Rachmawati didampingi Wakil Rektor UBK Teguh Santosa.
Menurut Dubes Mohammadi, sebelum kemenangan Revolusi Iran tahun 1979, Iran sudah mengembangkan program pembangunan energi nuklir, dan hal itu dilakukan atas dorongan dan bantuan Amerika Serikat. Saat itu, rezim Shah Iran merupakan skondan atau sekutu Amerika Serikat di kawasan.
"Mereka mendorong kami mengembangkan energi nuklir dengan alasan energi fosil akan segera habis, dan energi nuklir adalah energi masa depan," ujarnya.
Tetapi, setelah Revolusi Iran yang dipimpin Ayatullah Khomeini menggusur rezim Shah Iran Reza Pahlevi 1979, sikap Amerika Serikat berubah.
Setahun kemudian Iran dipaksa terlibat perang dengan Irak selama delapan tahun hingga 1988.
Setelah Perang Iran-Irak berakhir, barulah Iran memulai kembali pembangunan program nuklir yang sempat terbengkalai.
"Kami meminta bantuan dari berbagai negara termasuk Barat dan sekutu AS di Asia. Tetapi tidak ada yang mau membantu," ujarnya lagi.
Iran tidak punya pilihan selain mengembangkan program nuklir dengan kemampuan mereka sendiri, dan setelah sekarang mereka berhasil mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai, pihak Amerika Serikat kembali meributkan dengan berbagai tudingan yang tidak berdasar.
[dem]
BERITA TERKAIT: