Sejak Jumat pagi (20/4), para anggota parlemen membahas Rancangan Undang-Undang yang mengurusi biaya penÂsiun veteran perang. Dalam RUU ini, uang pensiun veteran perang bakal dipotong sampai 18 persen. Pemotongan uang pensiun ini merupakan bagian dari langkah penghematan yang dilakukan pemerintah Taiwan.
Para anggota parlemen dari Partai Kuomintang membawa spanduk yang bertuliskan tunÂtutan kepada Presiden Tsai Ing-wen untuk meminta maaf kepada para veteran. Mereka juga berteriak-teriak bahwa peÂmerintahan Tsai Ing-wen meruÂpakan pemerintahan 'penindas' yang menekan orang lemah.
Anggota Kuomintang lainnya juga meminta Ketua Parlemen Tuan Yi-kang untuk mengirimkan ucapan permintaan maaf resmi kepada seluruh veteran "karena telah bersikap rakus hingga tega memotong jatah para veteran."
Kericuhan oleh anggota ParÂtai Kuomintang ini pun beruÂjung ricuh karena anggota parlemen lainnya ikut emosi melihat perilaku mereka yang kelewatan.
"Turun! Bicaralah dengan sopan" teriak salah satu anggota parlemen kepada personel KuoÂmintang yang berteriak sambil naik ke atas meja.
Sementara itu, Presiden Tsai Ing-wen sudah meminta maaf lewat tayangan televisi lokal. Menurut Tsai, pemotongan uang pensiun diberlakukan kepada semua pihak "demi efisiensi pengeluaran negara."
"Saya tahu ini akan melukai banyak pihak. Namun, tindakan ini perlu dilakukan agar negara ini berjalan dengan baik," ujar sang presiden.
Pemerintahan menyebut jika tidak ada pemotongan uang pensiun, maka Taiwan akan bangkrut pada 2020.
Tsai telah mendorong banyak reformasi kontroversial -termasuk masalah perkawinan sesama jenis dan soal buruh. Perkelahian selaÂma sesi sidang parlemen hal yang biasa di Taiwan. Meski demikin, aksi ini tidak menyebabkan luka serius. ***
BERITA TERKAIT: