Industri Kita Ketiban Untung

AS & China Perang Dagang, Ekspor Baja RI Melonjak

Rabu, 18 April 2018, 09:37 WIB
Industri Kita Ketiban Untung
Foto/Net
rmol news logo Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China tidak selamanya memberikan dampak buruk bagi perekonomian Indonesia. Buktinya, ekspor baja nasional melonjak. Industri lokal ketiban untung nih.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia Hidayat Triseputro mengaku, kenaikan lonjakan ekspor besi dan baja merupakan berkah perang dagang AS dan China. Namun, tidak semua ekspor produk baja yang melonjak.

"Kemungkinan kenaikan itu bukan baja utama, mungkin baja non carbon. Itu karena anti-dumping di sana. Tapi ini ba­gus karena menjadi peluang," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Kenaikan impor baja ini dis­inyalir karena importir AS men­cari alternatif produsen untuk mengantisipasi kebijakan Presi­den AS Donald Trump perang dagang dengan China. Untuk mengisi kekosongan besi dan baja, mereka sudah memesan barang Indonesia sejak tiga bu­lan lalu. Sehingga pada Maret, barang itu telah tiba di Negeri Paman Sam.

"Kami masih menganalisa, karena kok tumben banget di Maret ekspornya naik. Ini pasti karena dampak dari kebijakan Trump," tuturnya.

Meskipun ekspor naik, Hi­dayat juga tetap khawatir dengan serbuan produk impor baja. Pe­merintah harus segera menelusuri barang seperti apa yang masuk. Jika produk tersebut semi finish­ing masih wajar karena untuk bahan baku industri.

Namun, jika kenaikan impor besi dan baja karena finished product, bisa mengancam pasar dalam negeri. Sekalipun, kata dia, alasannya untuk memasok proyek-proyek infrastruktur pe­merintah. Sebab, industri lokal sudah bisa memproduksi jenis baja tersebut.

"Harus diwaspadai limpahan produk yang tidak masuk ke AS. Kami wait and see sambil menyiapkan pengendalian im­por, sehingga tidak mengganggu pasar lokal dari serbuan China yang mencari alternatif dari AS," katanya.

Ekonom BCA David Sumual menilai, masih banyak peluang produk lain untuk masuk ke pasar AS di tengah perang da­gang. Apalagi, perwakilan kedua negara masih bernegosiasi. Sebelum mencapai kesepakatan, peluang ini harus dimanfaatkan untuk ekspor baja.

David mengatakan, jika pen­ingkatan ekspor besi dan baja berlanjut, bukan tidak mungkin neraca perdagangan Tanah Air melejit terdorong perang dagang. "Kalau berlanjut, Indonesia bisa memanfaatkan produk-produk yang AS tidak bisa impor dari China dan bisa beralih ke kita,"  imbuhnya.

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan ekspor besi dan baja ke AS meningkat signifikan selama Maret 2018. Kenaikan ekspor nonmigas terjadi hampir ke se­mua negara tujuan utama.

Kepala BPS Suhariyanto men­gatakan, ekspor ke AS mencatat­kan kenaikan terbesar senilai 303,8 juta dolar AS. Jumlah tersebut tumbuh 23,59 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Beberapa komoditas yang mencatatkan persentase kenai­kan ekspor terbesar ke Negeri Paman Sam antara lain komodi­tas besi dan baja, alas kaki, dan barang rajutan. Kendati begitu, belum dipastikan apakah pen­ingkatan ekspor besi dan baja ke AS yang cukup tajam ini merupakan dampak dari perang dagang AS dengan China.

Perlu melihat tren ekspor besi dan baja pada bulan-bulan berikutnya untuk mengambil kesimpulan yang akurat. "Tetapi bisa saja ini menjadi indikasi karena setelah pemerintah AS menerapkan bea masuk untuk impor baja, ekspor Indonesia jus­tru meningkat," katanya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA