Diplomat Top Ketiga AS Mundur Dari Kursi Jabatan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Jumat, 02 Februari 2018, 12:39 WIB
Diplomat Top Ketiga AS Mundur Dari Kursi Jabatan
Tom Shannon (kiri) berjabat tangan dengan Menlu Rex Tillerson/Reuters
rmol news logo Pejabat top ketiga di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Tom Shannon mengumumkan bahwa dia mengundurkan diri dari posisinya (Kamis, 1/2). Dia menambah panjang daftar diplomat karir senior yang keluar sejak Presiden Donald Trump mulai menjabat setahun yang lalu.

Shannon yang saat ini menjabat sebagai sekretaris negara untuk urusan politik, merupakan diplomat karir paling senior di Departemen Luar Negeri dan telah meniti karir di departemen tersebut selama lebih dari 34 tahun pelayanan yang mencakup enam presiden dan 10 Sekretaris Negara.

Dalam sebuah surat kepada staf departemen, Shannon yang saat ini berusia 60 tahun mengatakan bahwa dia mengundurkan diri karena alasan pribadi.

"Keputusan saya bersifat pribadi, dan didorong oleh keinginan untuk hadir dalam keluarga saya, mencadangkan hidup saya, dan menetapkan arahan baru untuk tahun-tahun saya yang tersisa," tulis Shannon dalam sebuah catatan kepada staf setelah memberitahukan kepada Sekretaris Negara Rex Tillerson atas keputusannya tersebut.

Shannon sendiri diketahui baru-baru ini bekerja pada beberapa masalah yang paling kompleks dan sensitif, termasuk kepatuhan Iran terhadap kesepakatan nuklir yang bersejarah dan hubungan Washington dengan Rusia.

Mundurnya dia dari jabatannya terjadi saat ada "aliran" diplomat karir senior yang juga mundur sejak Trump menjadi presiden.

Dalam pidatomya di Duke University di Durham, North Carolina, beberapa jam setelah pengunduran dirinya diumumkan, Shannon menekankan bahwa dia tidak mengundurkan diri karena alasan politik.

"Peristiwa dalam hidup saya sendiri telah mengajari saya bahwa sementara saya diberkati dalam banyak hal, satu hal yang saya tidak punya cukup waktu sekarang adalah waktu," katanya seperti dimuat Reuters.

Dia mengakui bahwa transisi politik di Washington sulit dilakukan bagi pegawai negeri karir, namun dia mengatakan jumlah mereka di Departemen Luar Negeri yang telah pergi karena alasan politik cukup kecil.

Sikap tenang Shannon, kemampuan bahasa dan pengalaman berpuluh-puluh tahun membuat dia sering dipilih sebagai utusan yang ditugaskan untuk beberapa misi sulit.

Shannon mewakili Amerika Serikat pada saat pelantikan presiden baru Liberia, George Weah, tak lama setelah ada laporan soal ucapan Trump bahwa imigran dari Afrika dan Haiti berasal dari negara-negara "shithole".

Shannon juga pernah menjadi duta besar untuk Brasil dari tahun 2005 sampai 2009 dan bertugas di pos di Kamerun, Gabon dan Johannesburg. Dia juga pernah ditugaskan oleh mantan Presiden Barack Obama pada tahun 2015 dengan memperbaiki hubungan yang sengit dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. [mel]

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA