Akhir pekan kemarin, Odinga menyebut bahwa setidaknya 31 orang telah terbunuh sejak ia kembali dari perjalanan luar negeri pada hari Jumat. Ia menyebut bahwa situasi tersebut memerlukan intervensi internasional yang mendesak untuk menghentikan pemerintah menginjak-injak hak anggota oposisi.
"Ini adalah premanisme yang disponsori pemerintah," kata Odinga seperti dimuat
Press TV.
Pemimpin oposisi tersebut, yang memprotes kekalahannya dalam pemilihan presiden Agustus lalu kemudian memboikot sebuah pemilihan ulang bulan lalu. Ketegangan tetap tinggi di Kenya sejak sebuah keputusan Mahkamah Agung pada bulan September yang membatalkan kemenangan Presiden Uhuru Kenyatta.
[mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: