Remaja 17 tahun itu bernama Kian Loyd Delos Santos. Polisi menyebut bahwa ia dibunuh karena terlebih dulu melepaskan tembakan ke polisi.
Hal itu memicu reaksi dari masyarakat Filipina yang meragukan bahwa remaja itu memiliki senjata dan lebih dulu melepaskan serangan.
"Membunuh orang miskin dan tidak berdaya bukanlah solusi untuk masalah narkoba saat ton metamfetamin diselundupkan," kata Senator Francis Pangilinan seperti dikabarkan
Reuters.
Namun Kepolisian Filipina memastikan bahwa jika siswa kelas 11 itu ternyata terbukti tidak menimbulkan ancaman, petugas yang menembaknya pada hari Kamis malam (17/8) akan dimintai pertanggungjawaban.
Kepala polisi Metro Manila, Oscar Albayalde, mengatakan bahwa ketiga polisi yang menembak remaja itu telah dibebaskan dari tugaskan dan mereka tengah terlibat dalam penyelidikan atas insiden yang terjadi di distrik Caloocan itu.
Polisi membunuh setidaknya 13 orang di Manila pada malam ketiga sebuah dorongan baru dalam kebijakan Presiden Rodrigo Duterte mengenai obat-obatan terlarang.
Awal pekan ini, 67 orang ditembak mati dan lebih dari 200 orang ditangkap di Manila dan provinsi yang berbatasan dengan ibukota Filipina sebagai bagian dari perang melawan narkoba.
[mel]
BERITA TERKAIT: