Menurut catatan dari sebuah kelompok hak asasi manusia, Dewan Pengungsi Norwegia (Norwegian Refugee Council - NRC), bersama 14 organisasi bantuan lainnya pekan ini, banyaknya kematian itu adalah karena tidaknya adanya akses perjalanan untuk korban luka ataupun warga yang sakit untuk mendapat bantuan medis yang diperlukan.
Karena itulah mereka meminta pihak-pihak yang berperang di Yaman untuk membuka kembali Bandara Internasional Sana'a dan memperingatkan bahwa penutupan sepanjang tahun menghalangi arus bantuan kemanusiaan dan mencegah ribuan pasien untuk terbang Di luar negeri untuk pengobatan yang menyelamatkan nyawa.
"Penolakan akses terhadap perjalanan telah mengecam ribuan orang Yaman dengan penyakit yang dapat bertahan hingga mati," Direktur NRC di Yemen Mutasim Hamdan mengatakan dalam sebuah pernyataan seperti dimuat Press TV.
"Tanpa akses ke perjalanan komersial yang aman, orang-orang Yaman ditinggalkan tanpa akses perawatan medis kritis," lanjut pernyataan tersebut.
Koalisi yang dipimpin oleh Saudi telah memberlakukan zona larangan terbang melawan Yaman di tengah kampanye pengeboman mematikannya terhadap negara tersebut, yang dimulai pada bulan Maret 2015.
Pesawat-pesawat tempur Riyadh membombardir bandara Sana'a pada bulan April tahun itu, menyebabkan kerusakan parah pada terminal landasan pacu dan terminal penumpang saja.
[mel]
BERITA TERKAIT: